
Pecinta sepakbola itu, tak pernah berpaling hati. Kalau sudah cinta sepakbola, akan setia sampai mati. Istri boleh berganti, partai boleh bertukar, tapi sepakbola tetap abadi. Bukan sekedar moto, bukan sekedar kata, tapi selaras hati dan pikiran. Seiring langkah dan tujuan
Bukan yang terjadi sekarang ini. Pejabat seperti pecinta sepakbola sejati. Selfie di lapangan bak Lionel Messi. Mencetak gol, layaknya Ronaldo berselebrasi. Hanya bermain dengan kaki, bukan dengan hati. Sekedar pencitraan bukan ‘merujuk’ sebuah prestasi. Pantas di daerah ini, terkhusus Kota Padang sepakbola mati suri
Mengurus sepakbola itu memang tak mudah. Sepakbola bukan proyek. Ada uang muka, ada fee, ada mark up pekerjaan dan ada kolaborasi mencari keuntungan. Sepakbola, kadang tak ada uang muka, merogoh kantong sendiri. Tak ada keuntungan dan mark up. Hanya keikhlasan berkorban waktu, pikiran dan materi. Kebanggaan didapat, apabila sukses meraih prestasi
Mengurus Sepakbola dengan Hati
Terinspirasi dengan perkataan seorang sahabat yang juga seorang wakil rakyat. Mastilizal Aye, SH, Wakil Ketua DPRD Kota Padang. Ketua Askot PSSI Kota Padang. Disebuah laman FB, terlontar kata penuh makna. ‘Lebih baik menepi, daripada berurusan dengan mereka yang tak mengerti dan tak perduli.
Kalau tak direspon, biarlah urus sepakbola rekreasi. Dan, ia berharap semoga bangun Pandeka Minang. Kata penuh makna dan sejuta tanda tanya. Membiaskan rasa kecewa terhadap nasib ‘Pandeka Minang’ julukan PSP Padang yang terbenam di dasar jurang. Klub legenda, hiduik sagan, mati ndak namuah’
Padahal, kompetisi berbagai usia mulai berjalan, Liga 4 sudah diambang mata. Tapi, belum jua terlihat tanda tanda ‘Pandeka Minang’ bangun dari tidur panjang. Sebagai Ketua Askot PSSI Kota Padang, ia berharap mari sama sama fokus untuk mengelola PSP Padang. Dan, dibutuhkan orang yang peduli dan mengerti, bukan sekedar berpartisipasi, tapi tak memahami
Mengurus sepakbola itu dengan hati. Memiliki semangat, dedikasi dan cinta terhadap sepakbola. Libatkan perasaan dan rasa memiliki dalam setiap langkah mengurus sepakbola. Intinya, mengurus sepakbola itu dengan hati, tak sejalan lebih baik menepi. Bermainlah dengan hati, bukan sekedar pencitraan lewat kaki. Kalau tidak, jangan berharap terukir prestasi
Penulis
Novri Investigasi


