
Oleh : Musfebtial Musa Malin Mudo
Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Rendang dapat dikatakan sebagai salah satu makanan yang ikonik dalam selera kolektif masyarakat Indonesia, bahkan telah menjadi bagian dari identitas nasional, selain diasosiasikan sebagai makanan khas Minangkabau di Sumatera Barat. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana rendang selalu tersaji di rumah makan khas Minangkabau di setiap kota di Indonesia, selalu dihadirkan sebagai salah satu hidangan istimewa di setiap hari raya Idul Fitri, dan menjadi salah satu menu masakan rumahan yang umum dijumpai di rumah-rumah tangga Indonesia.
Pada intinya, makanan khas Minangkabau ini disukai oleh semua lapisan sosial dan suku bangsa di Indonesia (Rahman, 2020). Citra rendang sebagai makanan etnis dan domestik kemudian meningkat ke tingkat global setelah CNN Go merilis jajak pendapat berjudul “World’s 50 Most Delicious Foods” pada tahun 2011. Perhatian dunia kemudian tertuju pada makanan yang diawetkan dengan daging berwarna hitam ini.
Hasil jajak pendapat menempatkan rendang di posisi teratas sebagai makanan terlezat di dunia. Hal ini menjadi semacam “kemenangan” bagi Indonesia dalam menghadapi Malaysia, mengingat negeri jiran ini pernah mengklaim rendang sebagai bagian dari makanan nasionalnya.
Pada tahun 2017, berdasarkan 35.000 suara di media sosial, dari lima puluh makanan terlezat di dunia, CNN Travel dalam jajak pendapat “World’s 50 Best Foods,” kembali menempatkan rendang di peringkat pertama sebagai makanan terlezat di dunia . Namun tantangan yang dihadapi Unit Usaha Kecil Menengah (UMKM) rendang di Sumatra Barat sekarang ini adalah bagaimana pengemasan dalam kreasi kuliner rendang sehingga tetap menarik dan sehat serta tahan lama dalam waktu yang lama.
Hal ini penting dicari solusinya karena terkait dengan keberlanjutan budaya rendang dan gastrodiplomasi rendang di dunia Internasional. Karena tanpa pengemasan kreasi kuliner rendang yang mempertimbangkan estetika dan Kesehatan akan menyebabkan daya tahan kemasan rendang di pasaran internasional.
Untuk menjawab semua itu peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasiolal melalui Pusat Riset Manuskrip, Literaur, dan Tradisi Lisan yang berkoaborasi dengan Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan serta Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset, dan Kawasan Sains dan Teknologi melakukan penelitian di Sumatera Barat dari tanggal 11 sampai dengan 22 Juni 2025, dengan judul “Modifikasi Rendang Melalui Teknologi Kemasan yang Sehat untuk Mendukung Keberlanjutan Kuliner Tradisional di Tingkat Dunia’ yang diketuai oleh Sastri Sunarti,dengan anggota Nina Syahrul, Mulyadi, Asep Nurhikmat, Dedy Husnurrofi, dan Dewi Puspa Ariany.
Sastri Sunarti, ketua tim peneliti sekaligus Kepala PR. MLTL.
BRIN menjelaskan bahwa penelitian ini sesungguhnya menjawab perkembangan zaman akan kebutuhan makanan rendang, kuliner tradisional Minangkabau yang terkenal di tingkat dunia. Lebih jauh Sastri Sunarti menjelaskan bahwa para periset memberikan pemahaman kepada produsen akan teknologi yang bisa menjadikan kemasan rendang tetap sehat dan higienis sehingga layak untuk dipasarkan dalam dunia internasional.
Penelitian ini dilaksanakan di beberapa daerah di Sumatera Barat, seperti Kota Padang, Tanah Datar, Payakumbuh, dan Pesisir Selatan. Penelitian ini tentu memberikan manfaat yang berarti kepada produsen rendang di Sumatera Barat karena mereka langsung melihat dan mempraktikan kemasan hasil rendang mereka di Sentra Rendang Kota Padang di Lubuk Buaya. Kecamatan Koto Tangah.
Produsen rendang, seperti Asese, Siti Nurbaya, Kampaung Randang Nagari Aia Angek Tanah Datar, Kampung Rendang Gadih Payakumbuh, Rendang Kokoci Payakumbuh, Rendang Lokana Bayang Pessel, dan Rendang Madam Batusangkar tentu akan mendapatkan manfaat dengan penelitian ini.
Pada gilirannya akan mampu meningkatkan pendapatan mereka dan berimbas pada pendapatan daerah Sumatera Barat.


