
Catatan Emil Pribadi, S.IP :
Pemerintah Indonesia sejak 2 Oktober 2009 telah menetapkan ,dimulainya peringatan hari batik nasional, sebagai penghargaan kepada pengrajin batik di berbagai kawasan di tanah air yang begitu dikagumi dunia.
Setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai hari batik nasional, dan semua warga pada hari itu memakai batik..
Tujuannya selain untuk mendorong pertumbuhan produksi pakaian batik semakin intens, juga berupa penghargaan kepada pengusaha/ pengrajin batik.
Diantara sekian banyak pengrajin batik, salah satunya yang cukup mendapatkan besar, seperti Kota Pekalongan yang berada di daerah Pulau Jawa, Jawa Tengah.
Paling terkenal dengan julukan Kota Batik karena merupakan pusat produksi batik terbesar dengan corak khas pesisiran.
Selain itu, kota ini juga dijuluki Kota Santri karena banyaknya pondok pesantren, dan pernah ditetapkan sebagai Kota Sehat oleh WHO.
Sementara itu, sebagian besar penduduknya berproduksi batik di rumah-rumah sejak ratusan tahun lalu,
Slogan internasional memperkuat posisinya sebagai pusat batik dunia dan bagian dari Jaringan Kota Kreatif UNESCO.
Dari catatan yang ada, Kota Pekalongan juga terkenal karena memiliki lebih dari 100 pondok pesantren dan Menjadi basis banyak tokoh agama. Julukan dari WHO pada 1998 karena keberhasilan uji coba konsep kota sehat di bidang kesehatan dan lingkungan. Karena letak geografisnya di pesisir utara Jawa.
Sementara, Julukan Kota Batik melekat kuat karena batik Pekalongan memiliki corak khas yang variatif dan warna yang cerah.
Dari itu, Slogan utama Kota Pekalongan adalah ‘Pekalongan World’s City of Batik’ yang merepresentasikan identitasnya sebagai pusat batik dunia’
Dijuluki demikian karena Pekalongan memproduksi hampir 70% batik Indonesia dan industri batiknya telah menjadi tulang punggung ekonomi kota secara turun-temurun.
Pekalongan merupakan kota pertama di Indonesia dan Kota asia tenggara pertama yang menjadi bagian dari jaringan kota kreatif UNESCO.
Adapun , Pekalongan merupakan kota penghasil batik terbanyak di Indonesia, Tak heran banyak terdapat industri batik di Pekalongan.
Di sisi lain, kisah cerita rakyat di Pekalongan ‘Berawal dari seorang wanita cantik bernama Dewi Rara Kuning yang menjadi janda muda dan berduka.
Saat mengembara, ia bertemu penguasa laut selatan (Ratu Kidul) dan diangkat menjadi pengikutnya dengan kesaktian tinggi.
Ia diperintahkan mengganggu Raden Bahurekso, namun gagal dan akhirnya diizinkan tinggal di pantai utara Pekalongan sebagai penjaga. Selain itu,
Sultan Agung memerintahkan Raden Bahurekso membuka hutan Gambira yang angker. Dengan bantuan ayahnya, Ki Ageng Cempaluk, ia bertapa “ngalong” (bergelantungan seperti kelelawar) untuk mendapatkan kekuatan, yang kemudian menjadi asal-usul nama Pekalongan
“Jika anda ke Pekalongan pasti yang terpikir adalah “Batiknya”.
Mudah mudahan inspirasi ini mejadi spirit bagi kota lainnnya memproduksi batik lebih berkualitas dengan Corah bervariatif sesuai ciri khas daerah masing masing


