
Langit cerah, bulan tersenyum ceria, bintang berkedip manja. Udara dingin menusuk tulang, suara malam mengalun syahdu. Suasana semakin bermakna, saat merajut malam bersama Seniman Multitalenta Syarifuddin Arifin sang maestro puisi penerima anugerah utama puisi
Di kantor Redaksi Investigasi, Kamis (1/5), ditemani segelas kopi, bersama legenda seniman, merangkai kata, membahas dunia seniman. Syarifuddin Arifin juga sosok guru bagiku, banyak bercerita pengalamannya selama menggeluti dunia seni.
Bahkan, juga memberi masukan kepadaku, terhadap tulisanku yang juga menjadi perhatiannya. Walau sesaat, banyak diserap ilmu dan nasehat yang makin membukakan mata dan hati terhadap dunia seni. Seakan melengkapi yang diajarkan selama ini.
Malam semakin indah, saat Guru sebutanku pada seniman kondang itu. Soalnya, tahun ini, tepatnya tanggal 1 Juni 2026, usianya genap berumur 70 tahun. Presiden Ziarah Kesenian Nusantara (ZKN), yang akrab disapa If ini lahir pada tanggal 1 Juni 1956 di Jakarta.
Seniman Multitalenta
Sekilas sosok Syarifuddin Arifin, selain menulis puisi, atau sebagai penyair, Presidium Forum Perjuangan Seniman (FPS) Sumbar ini juga menulis novel/cerbung, cerpen, yang dimuat di media cetak daerah (lokal) dan nasional (Jakarta).
Cerpen dan puisinya dimuat di hampir duaratusan antologi terbitan Indonesia, Malaysia, Singapura dan sebagiannya telah diterjemahkan ke Bahasa Perancis, Rusia dan Inggris.
If panggilan akrabya, merupakan alumnus STKIP-AIK Padang juga seorang pekerja teater dan pemain sinetron. Bahkan, juga pernah menjadi wartawan di Harian Haluan Padang.
Guru itu, juga salah seorang penggiat Bengkel Sastra Indonesia (BSI) Jakarta, di tahun 1980-an. Pernah di kelompok Bumi Padang, asuhan Wisran Hadi. Mengasuh dan menjadi sutradara di Teater Jenjang dan Teater Flamboyan, Padang. Dan, mendirikan Sanggar Penulisan MASA Padang (1984).
Bahkan, ia menjadi pengurus Dewan Kesenian Sumatera Barat. Dan pernah menghadiri Pertemuan Sastrawan Nusantara di Jakarta (1979), Kayutanam Sumbar (1997), serta di Johor Baharu, Malaysia (1999). Kemudian menghadiri Kongres Kesenian di TMII (2005), Kongres PARFI di Jakarta (1993, 1997), serta Kongres PAPPRI di Puncak Jawa Barat (2002).
Pada tahun 2014, ia menerima Anugerah Utama Puisi Dunia dari Numera Malaysia bersama Abrar Khairul Ikhirma. Dan tahun 2016 menerima Medalion Pulara di Pangkor Island, Perak Malaysia.
Karya-karyanya, termuat dalam Sembilan (1979), Ngarai (1980), Bermula dari Debu (1986), Gamang (1989), Catatan Angin di Ujung Ilalang (1998), Sajak-sajak Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka, Parade Karya Sastra se Sumatera-Jawa (1995), Hawa (1996), Penyair Sumatera Barat (1999), Penyair Sumatera (2000), dan Suara-suara dari Pinggiran (2012), Maling Kondang (2012), Gonjong Patah (2019), dan Iga, Rindu Tanah Plasenta (2023).
Kemudian novel/cerbung; Untuk Sebuah Cinta (2000), Sarjana Sate (2001), dan Anak Angin di Celah Awan Jingga (2002). Ia juga pernah memenangkan Sayembara Penulisan Cerpen Perjuangan PWI Sumbar (1982), Sayembara Penulisan Kritik Sastra (1984), Penulisan Cerpen HUT Mingguan Singgalang (1985), Naskah Sandiwara (1984), Kritik Seni Pertunjukan (2003), dan Pemenang Penulisan Cerpen di Majalah Kartini (2003). Dan karya novelnya Menguak Atmosfir dimuat secara bersambung di majalah Kartini (2004)
Karya Syarifuddin Arifin Mendunia
Sosok yang suka bercanda itu, karya karyanya sudah mendunia Karya-karyanya, termuat dalam Sembilan (1979), Ngarai (1980), Bermula dari Debu (1986), Gamang (1989), Catatan Angin di Ujung Ilalang (1998), Sajak-sajak Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka, Parade Karya Sastra se Sumatera-Jawa (1995), Hawa (1996), Penyair Sumatera Barat (1999), Penyair Sumatera (2000), dan Suara-suara dari Pinggiran (2012), Maling Kondang (2012), Gonjong Patah (2019), dan Iga, Rindu Tanah Plasenta (2023).
Kemudian novel/cerbung; Untuk Sebuah Cinta (2000), Sarjana Sate (2001), dan Anak Angin di Celah Awan Jingga (2002). Ia juga pernah memenangkan Sayembara Penulisan Cerpen Perjuangan PWI Sumbar (1982), Sayembara Penulisan Kritik Sastra (1984), Penulisan Cerpen HUT Mingguan Singgalang (1985), Naskah Sandiwara (1984), Kritik Seni Pertunjukan (2003), dan Pemenang Penulisan Cerpen di Majalah Kartini (2003). Dan karya novelnya Menguak Atmosfir dimuat secara bersambung di majalah Kartini (2004)*


