
Catatan Ringan : Richard, Akb
Sebagaimana dilansir media asing dan lokal Amerika Serikat (AS) bersama Israel melancarkan serangan serentak ke negara Iran, dengan besar-besaran terkoordinasi kesejumlah target strategis mulai sabtu,(28/2/26).
Serangan tersebut dipicu berbagai sebab, antara lain akibat isu yang begitu center, tentang nuklir, rudal, dan gagalnya diplomasi.
Para anggota Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) langsung menyikapinya dalam pertemuan darurat Sabtu,(28/2-26) saling melontarkan kecaman terkait serangan militer terhadap Iran oleh Amerika Serikat (AS) – Israel.
Kini menjadi teras utama di dunia internasional tentang hiruk pikuk dan ketegangan yang terjadi ketiga negara tersebut.
Diperkirakan seribuan lebih sudah jatuh korban jiwa , bahkan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dalam agresi militer tersebut, baik dikalangan militer, maupun rakyat sipil.
Amerika (AS)-Israel serang Iran, ribuan rudal di tembakkan tiap hari, sampai saat ini oleh ketiga negara tersebut.
Jarak antara Iran dan Israel sekitar 1.300 km hingga 1.500 km (800-930 mil),
Sedangkan AS juga memiliki banyak pangkalan militer di kawasan Timur Tengah, termasuk beberapa kapal induk/ sebagai pangkalan peang.. .
Pangkalan militer AS di timur tengah merupakan markas armada kelima di Manama, Bahrain, Al-Udeid Air base di Qatar, Al-Salem Air Base di Kuwait, serta Al Dhafra fi Uni Emirat Arab, Prince Sultan di Arab Saudi, Muwaffag Salti di Yordania, dan Al-Harir di Erbil , Irak.
Dari informasi media asing Rudal balistik dari Iran yang bergerak, diperkirakan dengan kecepatan Mach 5 dapat mencapai Israel dalam waktu sekitar 12 menit, meskipun waktu pastinya bergantung pada jenis rudal dan lokasi peluncuran, begitu pula sebaliknya kelompok AS.
Iran memiliki lebih dari 3000 rudal balistik.
Jalur terbangnya berkecepatan tinggi (kecepatan subsonik) dan melengkung tinggi ke atmosfer dan kemudian menggunakan gravitasi untuk mencapai kecepatan berkali-kali lebih cepat dari pada kecepatan suara.
Serangan Iran juga mengandalkan Zolfaghar Basir, rudal balistik dengan jangkauan lebih jauh hingga 700 kilometer di lengkapi kepala pencari optik. Sistem ini mampu menghantam target laut yang bergerak dengan tingkat presisi lebih tinggi.
Rudal balistik jarak jauh Iran dapat menyerang target sekitar 1200 mil jauhnya.
Bayangkan saja kekuatan rudal balistik “Rusia” jika perang ke 3 pecah, rudal balistik antar benua (ICBM) R – 36M Rusia dengan jangkauan terpanjang di dunia yang dapat mencapai serangan jarak tempuh 16.000 km
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat menyebut penggunaan kekuatan militer oleh Amerika Serikat (AS) – Israel terhadap Iran, serta serang balasan Iran, merusak perdamaian dan keamanan Internasional.
PBB mendesak agar persoalan tersebut dibawa ke meja perundingan,
Reaksi keras juga datang dari para pemimpin dunia Rusia dan china “bentuk pelanggaran hukum Internasional yang sinis dan berbahaya”.
Presiden Trump minta gencatan senjata, Iran menolak keras, tetap mengoperasikan rudal balistik/melakukan serangan ke berbagai sasaran strategis.
Negara negara besar, seperti Rusia, Perancis, China, Korut, dan lainnya sangat kecewa dengan peperangan tersebut, karena telah meluluh lantakkan berbagai infrastruktur penting, korban jiwa yang tidak sedikit (manusia tidak berdosa), sarana prasarana urgen lainnya, serta tewasnya pemimpin utama Iran.
Juga merusak kesepakatan / hukum internasional.
Rakyat dunia berharap negara negara besar atau Kelompok NATO tidak ikut dalam.peperangan tersebut., baik mendukung kelompok Amarika, Israel, maupun Iran..
Disinilah Letak kekhawatiran masyarakat dunia bila negara negara super tersebut ikut ambil bagian mendukung salah satu negara yang bertikai tersebut
Bila hal tersebut terjadi, tidak heran akan meletus perang dunia ketiga.
Pasti akan saling serang dan juga akan berimbas ke negara negara kecil yang tidak punya kepentingan apa apa .
Terus, bagaimana dengan negara Indonesia yang berpenduduk mencapai 280. juta jiwa . Akan ikutkah tergoncang?.
Sepanjang tetap berdiri kukuh dengan politik luar negeri yang bebas aktif/ Non Blok, tanpa memihak kepada kepentingan atau kekuatan manapun, akan tetap berada pada posisi aman.
Lain ceritanya kalau politik luar ngerinya sudah tidak Non Blok lagi, bisa bisa salah satu pihak kelompok yang berperang berbuat semaunya??.
Pihak yang berkepentingan tetaplah menjadikan Indonesia bangsa yang besar , sehingga Indonesia dihormati dan dihargai dalam pergaulan/hubungan Internasional dan di dalam negeri, oleh pemimpin-pemimpin dunia dan di kancah Internasional atau Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)..
Negara negara besar agar tetap menjaga kemandiriannya, tanpa ikut campur dalam mendukung salah satu.kelompok yang bertikai saat ini.
Mencegah peperangan yang makin meluas dan mencegah perang dunia ketiga.
Khusus negara Indonesia tidak perlu ikut bermain di salah satu kekuatan besar. Tetaplah pada posisi Netral/ Non Blok. Sehingga rakyat aman sentosa dan berbagai infrastruktur yang sudah dibangun 80 tahun kemerdekaan RI tidak sia sia atau tidak ikut hancur lebur.
Indonesia tetaplah jadi negara “Berdikari”/ berdiri diatas kekuatan sendiri, seperti didengungkan dengan tegas di awal awal kemerdekaan RI oleh pendiri negara, Bung Karno – Hatta.
Disegani di dunia perpolitikan internasional.
Indonesia Selalu aman sentosa dan makmur. , jauh dari mara bahaya. Semoga.


