
PADANG, INVESTIGASI_Ketika banjir dan longsor, memporak porandakan sawah, ladang dan perkampungan. Derita berkepanjangan dilalui warga yang berada dibibir sungai. Diiringi tetesan air mata, mereka harus merelakan harta benda dan kediaman disapu derasnya air.
Tak satupun tersisa, semua musnah seketika. Hanya air mata menemani duka. Segerombolan air besar, tumpukan kayu gelondong, mengakhiri kisah bahagia yang puluhan tahun hidup dilokasi bencana
Meninggalkan puing puing luka. Membekas kesedihan yang menggores jiwa. Hanya berharap kepedulian pemerintah mengamankan permukiman yang tersisa. Harapan warga rehabilitasi rekonstruksi sungai, menjadi solusi, mengantisipasi bencana susulan yang terjadi
Geobag dan Bronjong Pasir Masih Diragukan
Khusus untuk penanganan bencana yang dimulai dari Jembatan Bypass, tepatnya di belakang Kafe UJ, hingga Jembatan Kampung Kelawi dan Adzkia, masih menyimpan keraguan. Soalnya, akibatnya bencana susulan geobag diharapkan menjadi tanggul, kini berantakan
Wajar pekerjaan bronjong dan geobag dianggap menjadi solusi, mengatasi banjir dan tanggul penahan tebing, menuai keraguan warga. Bukan tanpa alasan, masih dalam tahap pekerjaan, geobag sudah berantakan, goyang tak beraturan. Diyakini, jika terjadi banjir bandang lagi, tak akan mampu membendung dan menyelamatkan permukiman warga
“Apakah pekerjaan Geobag yang sudah berantakan ini, bertahan lama. Dan, mampukah proyek itu menghapus trauma warga, jika datang bencana susulan. Soalnya, geobag dan bronjong pasir menjadi solusi mengatasi persoalan terjadi, sudah berantakan dan goyang. Bahkan, sudah ada robek dan merekah,” ujar Feri warga setempat
Ia juga mempertanyakan pekerjaan Geobag oleh perusahaan plat merah PT. Nindya Karya. Katanya, pekerjaan geobag atau tas berbahan geotekstile, diisi material pasir, kerikil atau tanah. Malah, diisi batu besar. Dan, ini terungkap saat geobag robek dan merekah. Tidak itu saja, kawat bronjong pun terindikasi campuran, rakitan dan pabrikasi
Satriawan OP BWSS V, mengakui batu yang dimasukkan ke dalam geotak yang mengakibatkan robek dan merekah, disebabkan pelaksanaan tidak sesuai. Sementara, pihak PT. Nindya Karya, beberapa kali berita ini terbit, belum ada tanggapan. Lalu, bagaimana di lokasi lain, seperti Ikua Koto Lubuk Minturun, Gurun Laweh Banda Gadang dan lainnya
Penulis
Novri Investigasi


