
Cerita duka membalut luka. Tangis pilu merasuk jiwa. Tatkala rumah sakit tempat berobat, malah menjadi penghambat. Tanpa beban lepas tanggungjawab, bukan penyakit beresiko tinggi dan tak perlu diobati
Kalau tak sakit, kenapa malam hari pergi berobat. Padahal, itu jam istirahat. Rasa sakit tak lagi tertahan, tertatih tatih menahan derita. Berkendaraan roda dua menempuh dinginnya cuaca.
Harapan mendapat perawatan dan bisa sembuh dari derita berkepanjangan. Bermodal kartu KIS menaruh harapan agar dapat pelayanan. Tapi, kekecewaan dirasakan. Tak diterima entah apa alasannya
Air mata mengiringi buruknya pelayanan. Tangis pilu menyertai beragam alasan. Sabak berganti hujan. Kristal membasahi pipi, menahan pedih dalam hati. Nyawa seakan tak lagi berarti
Malang pun meregut jiwa. Mencari rumah sakit lain untuk berobat, hanya sekedar melepaskan nyawa. Pecah tangisan pilu keluarga. Tuhan, kenapa semua ini terjadi. Apakah mereka tak punya nurani
Setelah melepas nyawa, ribut tiba. Menjadi viral dan perbincangan warga. Wakil rakyat ikut bersuara, pejabat daerah pun ikut sata. Tapi, tak akan bisa mengembalikan nyawa. Bukan sesalan yang tiba. Berbagai alasan, menjawab pertanyaan warga
Entahlah, tak sanggup lagi bercerita. Tak tersusun lagi kata kata. Hancur lebur merasuk jiwa. Melepaskan kepergian orang tercinta. Hanya doa melepaskan kepergian. Dan, berharap tak ada lagi korban.
Penulia Novri Investigasi


