
PADANG, INVESTIGASI-Junjung sportifitas, hanya sekedar slogan. Menang hebat, kalah bermartabat, hanya kalimat tanpa makna. Alhasil, PSSI Sumatera Barat, berikan sangsi tegas, buntut ricuh cabang sepakbola Porprov XVI Sumbar. Laga Sawahlunto versus Payakumbuh, ternoda
Setelah melalui proses, baik secara manual dan virtual, Panitia Disiplin Porprov XVI Sumatera Barat di ketuai Drs Eramus, Erman Yuli Adriansyah SH anggota, memberikan sangsi tegas kepada pemain dan official tim.
Eramus, mengatakan, sangsi ini untuk memberikan efek jera bagi para pemain maupun official, tidak terjadi jika para pemain dan official dapat meredam emosi saat laga di lapangan
“Kita juga menyayangkan laga grand final Cabor sepak bola Porprov XVI. Padahal, awalnya sangat bagus, namun di menit menit akhir, pemain dan official tak mampu mengontrol emosi. Kami memberikan hukum agar kedepan para pemain dan official mampu dewasa dalam menyikapi situasi,” katanya.
Ketua Thecnical Delegate, saat dikonfirmasikan, juga menyampaika sebelum laga grand final Porprov XVI, ia sudah menghimbau agar menjunjung sportifitas. Pemain asset Sumatera Barat di persipkan untuk ajang Porwil
“Kami tidak tutup mata dalam memberikan edukasi agar pemain muda, masa depan Sumatera Barat lebih berprestasi dan mampu menahan emosi,” katanya.
“Tentu dengan peristiwa tersebut, katanya, kami kembali ke ranah Pandis, siap dengan konsekwensi atas perbuatan yang mereka lakukan,” ulas match commissioner senior Sumatera Barat tersebut.
Terpenting, dalam sepak bola, tidak ada pemain, official dan pelatih yang bisa berbuat anarkis, apalagi baku hantam sesama pemain, pelatih dan ofisial. Sebab, sangsinya berat
Hukum yang diberikan oleh Pandis berpariasi. Mulai hukum ringan, teguran dan sangsi berat. Sesuai apa yang mereka lakukan di lapangan
Laga grand final Porprov XVI cabor sepak bola berlangsung di Stadion Utama Gelora Sumatera Barat, antara Payakumbuh versus Sawahlunto di saksikan ribuan pasang mata, dinodai dengan sikap kurang sportif.
Jetar


