
Kemaren tentang korupsi, hari ini tentang korupsi, besok cerita korupsi. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik. Korupsi cerita tak kunjung henti. Disana sini, di warung kopi, Dibawah Pondong Rindang, cerita korupsi menghiasi hari
Semakin eksis, semakin menyala, semakin terkenal pula. Seluruh kalangan masyarakat, sudah tak asing lagi dengan korupsi. Dari anak anak sampai orang dewasa, masyarakat kecil sampai kelas atas. Cerita tak kunjung tuntas. Sampai hari, masih dibahas
Khusus untuk korupsi proyek konstruksi menjadi lahan memperkaya diri. Tidak saja mengakibatkan kerugian negara, juga rendahnya kualitas infrastruktur membahayakan warga, sebab rentan bencana akibat bangunan tak kokoh. Kualitas rendah, tidak sesuai standar dan berumur pendek.
Semakin Menyala
Seminggu belakangan ini, kita dihebohkan berita korupsi proyek konstruksi. Kasus korupsi proyek jalan senilai Rp231,8 miliar di Dinas PUPR Sumut. KPK mengungkap adanya dugaan suap dalam proyek pembangunan jalan dengan total nilai Rp157,8 miliar. Viral dan mengebohkan jagat raya dan dunia maya.
Proyek konstruksi di Bandung Smart City. Dugaan korupsi berjemaah ini, melibatkan beberapa pejabat, termasuk juga wakil rakyat. Kolaborasi memperkaya diri sendiri dan memperpanjang penderitaan rakyat, akibat anggaran disunat
Skandal dugaan korupsi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kejaksaan Tinggi setempat, mengungkap dugaan penyimpangan anggaran lebih Rp30 miliyar. Kasus ini melibatkan sejumlah pejabat Balai Wilayah Sungai Babel dan rekanan swasta. Proyek fiktif menjadi penyebabnya.
Dan, ada beberapa kasus lagi yang mengakibatkan korupsi kostruksi semakin eksis dan menyala. Hukuman tak membuat jera. Gemanya semakin membahana, membuncah seantero nusantara. Tangkap satu, tumbuh seribu. Seakan korupsi konstruksi lahan manis untuk dinikmati. Tak perduli jeruji besi menanti.
Modus Dimainkan
Tentu timbul pertanyaan, kenapa sektor konstruksi menjadi lahan korupsi. Sebab, memiliki karakteristik unik, melibatkan anggaran besar, jangka waktu panjang. Bahkan, banyak pihak punya kepentingan, sehingga terjadi tumpang tindih. Kolaborasi ini menciptakan celah besar bagi praktik manipulasi. Mulai dari pelaksanaan, hingga pelaporan
Terungkap modus dimainkan, adanya perbedaan antara volume pekerjaan dilapangan dengan laporan progres. Terjadi rekayasa Berita Acara (BA) demi memalsukan progres. Penyimpangan spesifikasi teknis dan penggunaan material dibawah standar
Volume fiktif, dimana pekerjaan yang dilaporkan dalam progres tidak sesuai kenyataan dilapangan. Selisih ini menjadi celah untuk menilep anggaran. Disini, peran Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sangat besar, karena memiliki kewenangan dalam memverifikasi progres dan mencairkan anggaran
Itupun termasuk penggelembungan harga atau mark up biaya non fisik. Penyebab lain, dalam menerapkam e-procurement dan tender terbuka, meski prosedur formal telah diperbaiki, namun substansi pengawasan dan akuntabilitas tetap lemah. Lelang yang terlihat transparan sekedar formalitas belaka, ketika dokumen dan laporan dipalsukan. Bersambung
Catatan
Novri Investigasi


