
Aia Tajun Lubuk Ruso
Balingka bukik sarato sawah
Tasabuik juo irigasi Panti Rao
Alah lamo rusak parah
Cagar alam Rimbo Panti
Ikon wisata Kabupaten Pasaman
BWSS V Sumbar juo nan paduli
Irigasi rusak kini dipelok an
Rancak dipandang Puncak Tonang
Janiah aia Danau Talago
Binuang
Kini patani lah maraso sanang
Aia mangalia sawah Jo ladang
Desa wisata Lansek Kadok
Rancak alamnyo hati tapikek
Jo Irigasi Panti Rao kini ba arok
Ekonomi patani makin maningkek
DI Panti Rao yang terletak di Kabupaten, sudah tak asing lagi, bagi pecinta pariwisata. Bendungan DI Panti Rao, punya pesona luar biasa bagaikan magnet yang menarik wisatawan mengunjungi daerah tersebut
Hamparan sawah dan kebun membentang panjang, dilingkari perbukitan, menambah pesona daerah Khatulistiwa itu. Irigasi Panti Rao, tidak saja, menjadi lokasi wisata, juga tumpuan petani untuk mengairi sawah dan ladang.
Ketersediaan air, merupakan urat nadi bagi petani dalam menggarap sawah dan ladang yang menjadi mata pencaharian. Namun, beberapa tahun belakangan ini, duka dan nestapa menerpa petani. Kerusakan yang terjadi hingga 2024, berdampak besar terhadap aktifitas pertanian dan kesejahteraan mereka.
Tak berlangsung lama, berkat kepedulian
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang, rasa cemas petani, berangsur hilang. Soalnya, BWSS V tengah gencar melaksanakan proyek Rehabilitasi Daerah Irigasi (D.I.) Panti Rao yang berlokasi di Kabupaten Pasaman itu.
Bukan tanpa alasan, ini merupakan langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata untuk memulihkan kembali fungsi jaringan irigasi yang vital bagi produktivitas pertanian masyarakat setempat.
Apalagi proyek rehabilitasi ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan dan mendukung kesejahteraan petani daerah. Melalui optimalisasi infrastruktur pengairan ini, diharapkan pasokan air untuk lahan pertanian dapat kembali berjalan dengan lancar dan merata.
Menurut Rizki Wahyudi, Plt Kepala BWS V Padang, berdasarkan data teknis, kerusakan saluran irigasi yang terjadi hingga tahun 2024 telah berdampak cukup signifikan terhadap aktivitas pertanian. Target utama dari kegiatan rehabilitasi ini adalah untuk memulihkan kembali layanan irigasi pada areal persawahan seluas 2.461,8 hektare yang sebelumnya terdampak gangguan saluran air tersebut.
Selain memulihkan fungsi jaringan, proyek ini diproyeksikan mampu mendongkrak angka Indeks Pertanaman (IP) hingga mencapai 156,31%. Angka ini mengindikasikan bahwa rata-rata lahan sawah di kawasan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tanam sekitar 1,56 kali dalam satu tahun.
Guna memaksimalkan hasil produksi, pola tanam diterapkan pasca-rehabilitasi, difokuskan pada skema padi-padi-palawija. Dengan ketersediaan air yang lebih stabil, para petani di Kabupaten Pasaman dipastikan akan menerima manfaat ekonomi yang besar berkat peningkatan frekuensi dan hasil panen yang lebih optimal.
‘Kita akan terus mengawal jalannya pengerjaan ini agar selesai tepat waktu dan mutu. Sehingga, memberikan dampak langsung bagi masyarakat luas, khususnya dalam menggerakkan roda perekonomian di sektor pertanian,” kata Rizki yang dikenal dekat dengan berbagai kalangan, terutama kalangan media. Nv


