
Sejarah panjang mengiringi letusan Gunung Marapi di Sumatera Barat. Bahkan, letusannya sudah sering terjadi sejak abad ke 18 dengan skala bervariasi. Tahun 1822 ditandai dengan kepulan asap hitam kelabu dan leleran lava
Letusan letusan kecil, juga terjadi tahun 1833, 1834 dan 1854. Sementara, letusan besar pernah terjadi tahun 1979 disertai hujan lebat menyebabkan lahar dingin. Sampai sekarang masih aktif hingga saat ini dan seringkali mengeluarkan abu vulkanik
Bahkan, tahun 2024 juga terjadi baru baru ini yang memporakporandakan daerah sekitar Gunung Marapi. Tak terhitung korban nyawa, harta benda, sawah ladang dan permukiman. Duka itu, masih terasa sampai sekarang
Letusan Gunung Marapi, berdampak besar, seperti hujan abu, seperti abu vulkanik dapat merusak tanaman, menganggu pernapasan dan menganggu aktifitas sehari hari. Begitu juga lahar dingin dapat merusak infrastruktur dan mengancam permukiman penduduk
Termasuk juga gas beracun yang dikeluarkan oleh gunuang berapi berakibat membahayakan manusia dan hewan. Gunung Marapi, sering mengalami erupsi yang dapat menyebab hujan abu vulkanik, aliran lahar dingin, bahkan letusan lebih besar. Ini dapat mengancam keselamatan penduduk disekitar gunung dan merusak infrastruktur
Begitu juga bahaya lahar dingin setelah erupsi, materi vulkanik yang menumpuk di puncak gunung dapat memicu terjadinya lahar dingin saat hujan deras. Lahar dingin ini, sangat berbahaya, dapat merusak lahan pertanian, infrastruktur dan mengancam nyawa manusia
Gunung Marapi Sumbar Butuh Sabo Dam
Melihat kondisi Gunung Marapi yang sering mengeluarkan letusan kecil, perlu kewaspadaan berbagai pihak. Penanganan cepat dan solusi, jika itu terjadi perlu dipikirkan. Biar tak berdampak besar terhadap warga di sekitar Gunung Marapi. Termasuk pemukiman yang dilalui letusan Gunung Marapi itu
Salah satunya, membuat Sabo Dam. Sedikit ulasan mengenai Sabo Dam. Sabo Dam adalah bangunan yang berfungsi untuk mengendalikan aliran sedimen atau material vulkanik, seperti pasir, batu dan lumpur yang terbawa oleh air, terutama saat terjadi erupisi gunuang berapi atau hujan lebat
Sementara, fungsi Sabo Dam mencegah banjir lahar dengan menahan dan menampung materiak vulkanik. Sabo Dam dapat mengurangi resiko terjadinya banjir lahar yang dapat merusak permukiman dan infrastruktur daerah hilir.
Juga berfungsi untuk mengurangi erosi tanah yang disebabkan aliran yang membawa material vulkanik. Cara kerja Sabo Dam, menahan material, menampung material dan mengalirkan air yang relatif bersih yang dialirkan secara perlahan ke hilir. Sementara, material vulkanik yang tertahan akan mengendap di dalam Sabo Dam.
Berharap Kepada Kepala BWSS V, Naryo Widodo
Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V) dari Muhammad Dian kepada Naryo Widodo, memberi harapan penanganan Gunung Marapi. Sebab, ia memahami persoalan yang terjadi terhadap resiko meletusnya Gunung Marapi, ia memfokuskan pekerjaan Sabo Dam.
Tahun 2026 ini, Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Direktorat Jenderal Sumber Daya Alam (Ditjen SDA) melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V), menganggarkan pembangunan bangunan pengendali lahar/sedimen Kawasan Gunung Merapi di Provinsi Sumatera Barat, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agak dan Kota Padang Panjang sebesar Rp249.873.359.500, APBN tahun anggaran 2025 – 2027
Proyek yang dikerjakan Subur – Berkah KSO, diharapkan bisa selesai tepat waktu dan tepat mutu. Bukan tanpa alasan, sabo dam diharapkan menghilangkan kecemasan warga terhadap letusan gunung merapi yang merusak perkampungan mereka, bisa menjadi solusi. Cukup duka tahun lalu yang memporak-porandakan, kampung, sawah, ladang, sekarang masih menjadi trauma berkepanjangan.
Novri Investigasi
Wartawan Utama


