
Saat kampanye Pilkada 2024 lalu, suara keras dan lantang bergema. Bagian dari visi misi menarik perhatian masa, demi mendapatkan suara. Tak akan ada mafia proyek, tak akan ada permainan proyek, jika saya terpilih. Pernyataan heroik dari Fadly Amran dan pasangannya Maigus Nasir. Sekarang Walikota Padang
Jika ini, diterapkan sempurna, tanpa cacat dan cela, pembangunan dan sepakbola di Kota Padang, bakal menyala. Karena, sudah menjadi rahasia umum dan menjadi pembicaraan ‘galanggang rami’ proyek cara instan mengembalikan modal kampanye yang besar. Pertanyaan pun mengemuka, bagaimana timsesnya?
Berjuang berdarah darah. Menghabiskan energi, tenaga pikiran dan materi. Tentu berharap modal kembali. Nah, ini yang meragukan hati. Ketulusan tak tak lagi bertepi, keikhlasan jauh dari diri. Mengembalikan modal melalui proyek yang terbayang kini. Alhasil, berebut mendapatkan ‘kue’ proyek untuk kepentingan diri sendiri dan memperkaya diri.
Sasaran mereka, bermain proyek dan menghasilkan uang secara instan, tanpa keringat, mengatur pemenang lelang. Jual beli jabatan, mengatur tenaga outrourcing membawa perusahaan tertentu. Modalnya, menjual nama walikota untuk memainkan perannya. Ini sudah tercium, walau belum begitu menyala
Nasib PSP Bagaimana?
Apa hubungan dengan PSP Padang yang lama tidur panjang dan terbenam didasar jurang. Ya, tentu saja ada. Jika Fadly Amran dan Maigus Nasir dikelilingi orang yang peduli sepakbola, tentu memikirkan bagaimana PSP Padang bisa bangkit. Kata bijak, jika kepala daerah dikelilingi tim sukses, peduli olahraga, pasti akan maju.
Jika dikelilingi timses bermental proyek, jangan harap olahraga akan maju, termasuk juga sepakbola. Karena, terpikirkan bagaimana memperkaya diri. Ungkapan ini, merujuk situasi yang terjadi dengan PSP Padang sekarang ini. Gagal di Piala Soeratin CUP berbagai kelompok usia. Diragukan mengarungi Liga 4 yang bakal bergulir.
Harapan kita bersama, semoga ada jalan keluarnya. Dan, masih ada tim tersisa yang peduli sepakbola. Sehingga PSP Padang bisa bertarung di Liga 4 tanpa persoalan klasik kekurangan dana. Memang tak bisa instan bangkit, tapi perlahan lahan. Ada lima tahun waktu untuk membalikkan keadaan. Setidaknya, PSP Padang tak lagi jadi bulan bulanan di kompetisi sekelas tarkam
Tergilas Josal FC dan PSPP Padang Panjang
Menyedihkan dan menyayat hati. PSP Padang klub legenda, disegani kompetisi teratas sepakbola nasional, nasibnya sungguh malang. Terbenam di dasar jurang, terlelap dalam tidur panjang. Jangankan melangkah ketingkat nasional, kompetisi tarkam saja, sudah tergilas, seakan tak bernafas
Josal FC yang lahir tahun. 2023 lalu, menggilas kejayaan PSP Padang. Klub milik Arisal Aziz, anggota DPR RI dan owner Indah Cargo itu, menguasai kompetisi berbagai kelompok usia. Dan, mewakili Sumbar ke tingkat nasional. Padahal, tanpa APBD, tanpa sponsor, hanya kegilaan terhadap sepakbola mengorbankan sebagian penghasilannya
Mirisnya lagi, PSP Padang juga tak mampu bersaing dengan klub plat merah PSPP Padang Panjang. Kota dengan tiga kecamatan itu, prestasi sepakbolanya sangat luar biasa. Satu satunya klub plat merah, mengiringi kejayaan Josal FC. Sama sama bertarung ditingkat nasional mewakili Sumbar. Ya, kita lihat saja Liga 4 bakal bergulir tahun ini. Bagaimana nasib PSP Padang. Bersambung
Penulis
Novri Investigasi


