
Catatan : Richard, Akb
Selama bulan suci Ramadhan 1447 H
Masjid Raya Sumatera Barat (kini bernama Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi) “Diserbu” umat muslim Sumatera Barat, khusunya Kota Padang.
Setiap hari terlihat ratusan, bahkan ribuan umat muslim meramaikan mesjid kebanggaan Sumbar tersebut, mulai kaum dewasa, remaja, generasi muda dan anak anak, baik lelaki maupun perempuan. Kalangan menengah keatas, dan ” rakyat badarai,” menyatu.
Suasana tersebut mulai terlihat menjelang berbuka puasa, sampai shalat Magrib, Isya dan Tarwih berjemaah.
Hebatnya mesjid tersebut sudah menjadi salah satu icon wisata religius .
Disana bisa bersantai, sambil menikmati suasana dan keindahan mesjid yang sangat megah tersebut. Sekaligus melaksanakan ibadah.
Ramai datang ke masjid itu menjelang berbuka puasa setelah menahan rasa lapar dan haus seharian, menunggu waktu berbuka puasa. Masyarakat / kaum muslim terlihat membawa “Pabukoan” sendiri.
Bahkan pengurus juga menyediakan pabukuan dari donatur ratusan forsi setiap hari, semakin menambah semaraknya suasana berbuka puasa di situ.
Berbuka memanfaat seluruh teras lantai dua mesjid yang sangat luas, bersih dan sejuk.
Masyarakat/ umat muslim menikmati betul suasana mesjid yang bernilai sekitar Rp500 miliar tersebut.
Masjid ikonik di Padang tersebut mulai dibangun pada 21 Desember 2007, diinisiasi waktu itu oleh Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi,
Selesai dibangun sepenuhnya tahun 2019.
Didirikan dengan konsep tahan gempa mencapai 10 SR,
Dengan arsitektur modern tanpa kubah. Yang menggambarkan Rumah Gadang dan bentangan kain untuk mengusung Hajar Aswad.
Sebagaimana sudah terekspose secara nasional/ dunia, Ide pembangunannya muncul sekitar tahun 2006 setelah melalui diskusi , antara pemerintah Indonesia dan Malaysia, perlunya kebutuhan masjid besar dan kebanggaan masyarakat Povinsi Sumatera Barat waktu itu.
Masjid ini dirancang oleh arsitek Rizal Muslimin dari biro arsitek Urban. Desainnya memenangkan sayembara dan menonjolkan atap khas berbentuk gonjong Rumah Gadang atau bentangan sorban nabi, mencerminkan falsafah Minangkabau Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah.
Bangunannya terletak di Jalan Khatib Sulaiman, Padang, memiliki tiga lantai dengan kapasitas sekitar 20.000 jemaah.
Pembangunannya memakan waktu sekitar 10 tahun lebih dengan dana bersumber dari APBD dan berbagai donasi/ donatur
Pemakaian masjid secara bertahap dimulai pada Februari 2014, meskipun pembangunannya baru selesai total pada awal 2019.
Sesuai ide Gubernur Sumbar sekarang Mahyeldi Ansharullah, pada tanggal 1 Muharram 1446 H (Juli 2024), masjid tersebut resmi diganti namanya menjadi Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi .
Dasar pemikirannya, untuk menghormati ulama besar asal Minangkabau yang pernah menjadi imam besar di Masjidil Haram.
Masjid ini juga dikenal sebagai salah satu masjid terbaik di dunia karena keunikan desainnya yang tahan gempa dan tidak memiliki kubah konvensional.
Masjid Raya Sumatera Barat (Masjid Mahligai Minang), yang kini resmi bernama Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, adalah masjid terbesar di Sumbar berlokasi di Padang.
Unik karena tanpa kubah, arsitekturnya berbentuk gonjong rumah adat Minangkabau dan representasi bentangan kain saat meletakkan batu Hajar Aswad.
Masjid Raya Sumbar ini
Terletak di Jalan Khatib Sulaiman, Padang Utara. Dirancang oleh tim arsitek yang dipimpin Rizal Muslimin dari biro arsitek Urban (terkait Ridwan Kamil).
Didesain Tanpa Kubah, Bangunannya berbentuk persegi dengan empat sudut lancip, mencerminkan kain yang dibawa empat kabilah Quraisy untuk mengusung Hajar Aswad, sekaligus melambangkan atap gonjong rumah adat Minang.
Fasilitas: Terdiri dari tiga lantai dengan ruang utama di lantai atas, mampu menampung 20.000 jamaah. Dindingnya dihiasi ukiran Minang dan kaligrafi, serta tahan gempa hingga magnitudo 10.
Peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007, selesai sepenuhnya pada 4 Januari 2019 dengan total biaya sekitar Rp500 miliar dari APBD Sumbar, pusat dan donasi.
Masjid tersebut kini menjadi salah satu icon wisata religus Sumatera Barat,
dan populer sebagai tujuan wisata yang ramah bagi penyandang disabilitas..


