
Penulis : Try Sakti Bimantoro Masrie
No. BP : 1910443021
Dosen Pembimbing : Dr. Harmadi, S.Si, M.Si
Departemen Fisika Universitas Andalas
Budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) telah lama menjadi salah satu sektor perikanan air tawar paling potensial di Indonesia. Namun, tantangan utama yang dihadapi pembudidaya bukan hanya pada pertumbuhan kan, melainkan juga pada pengelolaan pakan dan kualitas air kolam.

Dua faktor ini sangat menentukan tingkat produktivitas dan efisiensi biaya operasional. Pakan menyumbang sekitar (60-70) % dari total biaya produksi, dan pemberian pakan yang tidak teratur sering kali mengakibatkan pemborosan. Sisa pakan yang menumpuk justru memperburuk kualitas air karena dapat meningkatkan kadar amonia dan menurunkan pH. Kondisi ini menyebabkan stres pada ikan dan memperlambat pertumbuhan.
Menjaga keseimbangan pH air dalam rentang ideal (6,5-8,5) menjadi kunci agar ikan nila tetap sehat dan aktif makan.
Fenomena inilah yang mendorong perkembangan sistem Smart Feeding dan Monitoring pH berbasis Internet of Things (IoT) di Departemen Fisika Universitas Andalas.
Sistem ini dirancang untuk mengotomatisasi pemberian pakan dan pengawasan kualitas air kolam secara real-time, tanpa perlu pemantauan langsung dari pembudidaya.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan di kolam berdiameter dua meter dan tinggi satu meter, sistem ini menggunakan NodeMCU ESP8266 sebagai pusat kendali yang terhubung dengan sensor Ultrasonik HC-SR04 untuk memantau volume pakan, sensor pH DFRobot untuk memantau tingkat asam-basa air, dan dua buah motor Servo SG90 sebagai aktuator pembuka katup pakan serta pengendali larutan Buffer untuk menstabilkan pH. Seluruh sistem diintegrasikan ke dalam aplikasi Blynk IoT, sehingga kondisi kolam dapat dipantau melalui ponsel pintar.
Gambar 1. Diagram Sistem Smart Feeding dan Monitoring pH Berbasis IoT
(Sumber: Try Sakti Bimantoro Masrie, Universitas Andalas, 2025)
Hasil pengujian menunjukkan performa sistem yang menjanjikan. Sensor ultrasonik memiliki tingkat kesalahan hanya 0,70%, sensor pH sebesar 1,43% dan distribusi pakan otomatis mencapai 199,4 gram dari target 200 gram (error 0,2%). Sistem juga mampu menjaga pH air pada kisaran ideal pH (6,5-8,5) dengan waktu pemulihan (14-17) menit setelah dilakukan penambahan larutan buffer otomatis.
Tabel 1.
Hasil Pengujian Sistem Smart Feeding dan Monitoring pH
Parameter Uji Nilai Rata-rata Error (%) Keterangan
Sensor Ultrasonik HC-SR04 Akurasi 0,5 cm 0,70 Deteksi tinggi pakan
Sensor pH DFRobot Akurasi ± 0,1 pH 1,43 Deteksi keasaman air
Distribusi Pakan Otomatis 199,4 g (target 200 g) 0,20 Uji efisiensi servo
Rentang pH Ideal 6,5-8,5 – Stabilitas air kolam
Waktu Pemulihan pH 14-17 menit – Respon buffering otomatis
(Sumber: Hasil pengujian lapangan, 2025)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem otomatis berbasis IoT bukan sekadar alat bantu, tapi bisa menjadi solusi nyata untuk efisiensi budidaya perikanan.
Dengan otomatisasi penuh, pembudidaya tak lagi harus memberi pakan manual atau mengukur pH setiap hari. Semua terpantau langsung lewat aplikasi, lengkap dengan notifikasi jika terjadi perubahan ekstrem pada air kolam.
Penelitian terdahulu oleh Abd dkk. (2022) dan Prafanto dkk. (2024) juga mengungkapkan bahwa penerapan sistem otomasi dan sensor pintar mampu menekan biaya produksi hingga 25% serta meningkatkan kelangsungan hidup ikan hingga 90%. Hasil ini memperkuat bahwa sistem berbasis IoT bukan hanya tren teknologi, tetapi juga kebutuhan mendesak bagi keberlanjutan sektor perikanan modern.
Selain meningkatkan efisiensi, pendekatan ini juga mendukung prinsip akuakultur berkelanjutan dengan mengurangi limbah pakan dan menjaga keseimbangan ekosistem air. Dalam jangka panjang, pengembangan sistem serupa dapat diterapkan di berbagai jenis kolam dan komoditas ikan lainnya, seperti lele dan gurame, dengan sedikit modifikasi perangkat lunak.
Secara keseluruhan, penelitian dari Universitas Andalas ini memperlihatkan bagaimana integrasi antara fisika terapan, otomasi, dan Internet of Things dapat memberikan dapat langsung bagi masyarakat.
Smart Feeding bukan hanya tentang efisiensi pakan, tapi juga langkah menuju sistem budidaya yang cerdas, hemat energi, dan ramah lingkungan.


