
Ini bukan tentang puisi, bukan juga fiksi. Tapi, realita yang terjadi sekarang ini. Sorak kemenangan, tangis kemalangan, mengibaratkan dua kutub berbeda. Aku begini, engkau begitu, tapi bukan sama saja.
Di suatu arena, sorak gemuruh mengiringi setiap laga. Dukungan penonton dan suporter membahana, saat atlit bertarung demi sebuah medali. Tak kunjung reda sampai berakhir laga. Bahkan, berbuah manis ketika medali di kalungkan ke leher
Senyum sumbringah, wajah cerah mengiringi atlit saat berdiri di podium. Bukan saja medali yang diterima, bonus mengharumkan daerah membayang di mata. Cerita singkat itu, mengilustrasikan meriahnya Porprov XVI Sumbar, ditengah bencana terjadi
Di arena lain, tangisan pilu mengharu biru. Kesedihan mengiringi duka lara dihati. Hari hari yang seharusnya dilalui dengan kebahagian berakhir penderitaan. Bencana banjir datang tiba, menghancurkan semua yang ada
Bukan kalung melingkar di leher, bukan bonus yang diterima, tapi derita mencekik leher, mengharapkan bantuan meringankan derita. Ini bukan yang pertama, tapi kisah sedih berlanjut, seakan drama berseri. Duka lama belum sembuh, luka baru muncul kembali
Pertanyaan pun bergayut dihati, akankah bantuan datang menghalir, seperti bonus menghalir kepada atlit yang meraih medali. Wajar saja keraguan itu muncul, disaat anggaran tersedot untuk pesta olahraga itu, tentu menunggu anggaran berikutnya.
Disaat pemegang kebijakan, pemangku jabatan, anggota dewan, fokus berbagi bonus, tentu tak sempat lagi menjenguk warga yang kemalangan. Pikiran panjang, menambah penderitaan. Masih sempatkah, mereka memperhatikan warga tertimpa bencana ditengah meriahnya pesta. Entahlah
Penulis
Novri Investigasi
Bukan Penyair


