
Kadang entahlah. Tapi, Baa lah. Sudah menjadi kurenah, orang orang serakah. Hanya mencari salah, tanpa tahu sejarah. Baru menjadi wartawan, menulis menyindir wartawan. Itupun bernada kasar, tanpa dasar. Ciri ciri wartawan Bodrex, sering bermain dilingkaran proyek. Hebatkan?
Menariknya, wartawan yang menulis itu, anak kemaren sore. Baru menjadi wartawan, saat media online perlahan membunuh media cetek. Kalau tak ada media online, entah jadi apa. Pastinya, bukan menjadi ‘siampa’, bergetayangan mencari mangsa. Ya, begitu tingkah lakunya.
Sebagai inisiator berdirinya, media investigasi infrastruktur di Sumbar awal 2000 an, tersinggung juga dengan tulisan itu. Walau sekarang, sudah tak banyak lagi beraktifitas, karena sudah hijrah.
Sudah banyak pejabat dan rekanan ‘merasakan lakek tangan’ berujung dipenjarakan. Walau bekerja sarat ancaman oleh pejabat dan rekanan bergaya preman. Kaki sebelah di penjara, sebelah lagi di kuburan. Itu resiko menjalani profesi
Sedikit ilustrasi, biar mereka mengetahui, awal 2000 an, permainan proyek sangat kasar sekali. Disebabkan tak ada mengawasi. Rekanan bekerja sekehendak hati. Mainkan volume, rekayasa laporan, abaikan mutu dan kualitas.
Berawal dari Proses Lelang
Permainan proyek itu, berawal dari proses lelang. Bukan seperti sekarang, proses lelang melalui LPSE atau E Katalog. LPSE sarat main mata panitia dan rekanan dimenangkan. Kadang ikut campur tangan walikota malam, menentukan pemenang. Asal ada uang muka, proyek didepan mata
Begitu juga E Katalog, permainan lebih indah lagi. Pemenang ditentukan oleh PPK, resiko pekerjaan juga menjadi tanggungjawab PPK. Harus hati hati menentukan rekanan, jika tidak berujung persoalan. Tapi, namanya permainan tetap jalan, ada celah yang dilakukan
Ditambah lagi, keluarnya Perpres No 46/2025, Tentang Pengadaan Barang/Jasa. Penunjukkan Langsung skala besar pun terjadi. Disebutkan, penunjukkan langsung langsung resmi dilegalkan sebagai jalur cepat. Baik itu, untuk keadaan darurat maupun skala prioritas nasional
Kembali ke prose lelang, sebelumnya dilakukan secara manual. Permainan pun terjadi, tapi dibagi rata dengan modus ‘Uang Cinduo’. Gaya permainan, memang tak elegen, tapi menguntungkan. Untuk paket tender, penawaran dimasukkan ke dalam kotak, sudah ditentukan pemenangnya.
Walau memasukkan penawaran sampai 20 rekanan, itu hanya formalitas. Ibaratnya, pengantar marapulai. Pemenang sudah ada. Penawaran pun dilakukan mendekati pagudana atau HPS. Agar sisanya berbagi uang Cinduo’.
Semua rekanan yang memasukkan penawaran, hanya berharap uang cinduo dari pemenang yang sudah disiapkan. Dan, ini mendasari, permainan proyek aman. Karena, sama menikmati. Nah, disinilah berawal, lahirnya media Investigasi Infrastruktur. Penulis ikut menjadi inisiator di awal 2000 an. Bersambung.
Penulis
Novri Investigasi


