
Antah apo nan tajadi
Kato indak sasuai jo perbuatan
Alah kurenah di zaman kini
Viral dulu baru mandapek tanggapan
Batanyo juo ka bakeh diri
Lain carito lain di hati
Tasabuik juo di galanggang rami
Indak viral apo nan tajadi
Kadang bertanya juga dalam hati, entah apa yang terjadi. Kok bisa seperti ini. Viral dulu baru ditanggapi. Tanda tanya tak kunjung berhenti. Kalau tak viral, apa yang akan terjadi. Tentu tak akan ada tanggapan dan berlanjut tragedi. Jangan tanya rumput bergoyang, karena kering kerontang diterpa panas matahari, mengangatkan bumi
Viral dulu baru mendapat tanggapan. Fenomema yang mencuat kepermukaan. Dimana, setiap persoalan, masalah, kasus baru mendapat perhatian dan ditindaklanjuti setelah viral di media sosial. Ini bentuk ungkapan kekecewaan, lambatnya mengatasi persoalan. Hanya tulisan dan video beredar di media sosial yang bisa merubah keadaan
Reaktif Bukan Proaktif
Mengiringi perkembangan zaman, media sosial menjadi kanal utama penyebaran informasi. Persoalan yang terjadi, kasus yang mencuat, baru mendapat perhatian setelah viral di platform digital. Ya, viral dulu baru ditindaklanjuti, mencerminkan pendekatan yang reaktif, bukan pro aktif.
Artinya, setelah tekanan publik muncul melalui media sosial, baru bergerak cepat. Mengambil tindakan, viral juga dimedia sosial. Konten juga dimainkan, seakan bergerak cepat menyelesaikan persoalan. Peduli dengan kasus yang terjadi, datang ke lapangan dengan rasa penuh simpatik. Dan, mengumbar janji segera diselesaikan dan ditangani
Cara dadakan ini, membuktikan, tak ada prioritas dalam menjalankan tugas. Tindakan hanya dilakukan setelah masalah dan persoalan muncul kepermukaan. Menimbulkan kegaduhan dan ribut di media sosial. Budaya kerja, cendrung menunggu perintah atau tekanan netizen sebelum bertindak
Fakta Tak Terbantahkan
Kita tak mengupas, kasus viral yang terjadi secara mendetail. Karena, sudah menjadi santapan media, maupun media sosial. Karena, setiap peristiwa langsung viral. Dan, menanggapi persoalan, di publikasikan melalui media dan buat konten dilapangan. Hanya peristiwa viral secara umum yang terjadi ditengah masyarakat
Seperti Pungutan liar (Pungli) di lokasi wisata. Sering terjadi namun tak ada bersuara, terus berlanjut begitu saja. Tapi, setelah diviralkan korban dan netizen, bergerak cepat menindak dan menyikapi. Infrastruktur yang buruk, baik jalan berlobang dan jembatan ambruk, setelah ada korban baru disikapi dan diperbaiki. Tawuran marak terjadi, baru disikapi setelah viral di media sosial
Begitu juga persoalan hukum ‘No Viral, No Justice’. Kesemena menaan, pelanggaran, baru ditanggapi setelah mencuat kepermukaan. Sikap heroik menyelamatkan nyawa orang. Berjuang melawan arus, derasnya sungai disebabkan rusaknya jembatan, setelah heboh, baru ditanggapi dan disikapi. Dan, banyak lagi, jika dikupas tak selesai dalam satu hari.
Viral Berbuah Penghargaan
Dibalik cerita semua ini. Ada juga menggelitik hati, sorak sorai galanggang rami. Kok bisa? Ya bisa! Sebab, masalah yang terjadi, kasus yang mencuat, keberanian dan heroik dilapangan, berbuah perhatian dan penghargaan. Bukan menuduh pencitraan atau memanfaatkan momen, tapi ini sering dilakukan.
Pejabat berkepentingan, bukan saja datang ke lokasi kejadian, juga mengundang mereka yang viral karena sikap heroik dan keberanian, ke kantor. Dilayani bak pahlawan, diapresiasi dengan materi pemberian uang sebagai bentuk apresiasi Bahkan, diberi penghargaan. Ya, viral dulu, ditanggapi, mendapat perhatian, berbuah penghargaan. Hebatkan
Penulis
Novri Investigasi
Wartawan Utama


