
Resonansi Jiwa, Tanggapan atas Kerinduan dan Jati Diri Novri Investigasi
Dari pangkuan bunda air mata menjadi makanan harian,
ketika ayah melangkah pergi, menghilang ke balik kabut rimba belantara,
Rimba Gadang yang menjadi saksi bisu perjuangan,
tempat ayah menanam nyawa demi tanah air tercinta,
sang pejuang yang namanya terukir bukan di atas kertas,
melainkan mengalir deras di setiap denyut nadi keturunannya.
Langkah kaki terasa berat terhempas badai kehidupan,
cobaan datang berbaris bak ombak yang tak kenal lelah,
namun semangat ayah bangkit bagaikan api yang tak pernah padam,
menyala di dalam dada, menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan.
Aku takkan pernah tunduk pada lelah atau menyerah pada waktu,
karena darah pejuang itu telah menyatu dengan daging dan tulangku.
Mengapa hari ini pena ini bergerak sendiri menari di atas kertas?
Padahal bertahun lamanya aku diam, membiarkan segalanya berlalu,
tak lagi bertanya, tak lagi menuntut apa yang seharusnya menjadi hak.
Namun gejolak jiwa datang meledak bagaikan gunung yang lama tertidur,
suara hati berteriak lantang memecah keheningan zaman,
bukan untuk menyindir, bukan pula untuk menuduh,
hanya sekadar menyadarkan apa yang telah terlupakan,
menegaskan jati diri yang mulai kabur tertutup debu masa.
Wahai Organisasi Pemuda Panca Marga…
Kaulah rumah besar yang memayungi keturunan para pahlawan,
kaulah taman tempat nilai juang ’45 mekar dan tumbuh subur,
kaulah pelita yang seharusnya menyinari jalan perjuangan bangsa.
Namun pertanyaan demi pertanyaan datang mengetuk pintu akal sehat,
siapakah yang sesungguhnya berhak menempati ruang suci ini?
Aturan telah berbicara dengan suara yang tegas dan terang:
Anggota Biasa, adalah akar dan induk pohon ini,
darah daging para pejuang yang terbukti dengan tulisan suci,
Surat Keputusan menjadi bukti tali persaudaraan dengan para pendahulu,
mereka lah pemilik sah rumah ini, pemilik suara yang paling lantang.
Anggota Peserta, mereka yang jiwanya telah menyatu dengan semangat juang,
meski tulisan belum menyatakan, namun hati telah bersaksi,
dibuktikan dengan ikrar kesetiaan dari Legiun para pejuang,
datang melengkapi barisan, menyemarakkan langkah ke depan.
Anggota Kehormatan, bunga-bunga indah yang tumbuh di taman ini,
mereka yang berjasa besar, yang tangannya banyak menabur kebaikan,
dihormati karena pengabdian, dicintai karena karya nyatanya.
Anggota Partisipan, adalah pendukung yang setia menjaga pagar,
berkontribusi dengan jiwa dan raga, memberi tenaga dan harta,
menjadi sahabat sejati yang menyertai langkah,
meski bukan berasal dari kandungan perjuangan, namun hati telah bersatu.
Namun kursi kepemimpinan, adalah tempat yang suci dan berat,
hanya dipanggil untuk Anggota Biasa, putra dan cucu pejuang sejati,
mereka yang membawa warisan luhur dalam sanubari,
yang memegang teguh Pancasila sebagai nafas kehidupan,
yang menjaga UUD 1945 sebagai tulang punggung negara,
yang siap berkarya, siap berbakti, siap menjadi pelita bagi sesama.
Lalu mengapa kenyataan berjalan menyimpang dari jalurnya?
Mengapa pintu kepemimpinan terbuka lebar bagi siapa saja?
Hanya karena ikatan tangan, hanya karena kata teman,
nama tertulis indah di lembar struktur organisasi,
padahal darah pejuang tak mengalir di dalam nadinya.
Terlebih saat bahtera induk terbelah dua arah,
saat pimpinan bersilang suara dan jalan bercabang,
pintu penyaringan menjadi longgar, aturan menjadi kabur,
yang berhak terpinggirkan, yang asing masuk ke dalam,
seakan warisan suci ini telah menjadi milik umum semata.
Ayah… darahmu tetap mengalir hangat di tubuhku,
meski namaku tak tercatat di buku besar organisasi,
meski namaku tak terukir di papan nama jabatan,
namun semangatmu adalah mahkota yang tak pernah bisa dicabut orang lain.
Aku menulis ini bukan untuk meruntuhkan,
tapi untuk memperbaiki pondasi yang mulai miring,
agar rumah para pejuang tetap berdiri kokoh di atas kebenaran,
agar nilai juang tak menjadi mainan waktu dan kepentingan,
agar Pemuda Panca Marga kembali menjadi cahaya yang sejati,
berjalan di atas jalur yang lurus, memegang amanah yang suci,
dan darah para pahlawan tak mengalir sia-sia ditelan bumi.
Dari 4 Jawara Kuranji, Marah Jantan
(Tb Mhd Arief Hendrawan/Cah Angon)


