
100 hari kepemimpinan Fadly Amran – Maigus, beragam penilaian. Meski, mendapat plus, tapi ada juga yang minus. Penilaian itu, juga tergambar dari Fokus Group Discussion (FGD) yang melakukan kajian evaluasi 100 hari kinerja Pemko Padang yang dilakukan oleh Bappeda Kota Padang bekerjasama dengan LPPM Universitas Andalas
Salah satu OPD yang bertanggungjawab terhadap pembangunan infrastruktur di Kota Bingkuang ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), juga berimbas dari lemahnya detak jantung pembangunan infrastruktur bergerak. Hanya mendapat nilai 66.58 dan dianggap berkinerja rendah
‘Padang Rancak’ salah satu Program Unggulan (Progul) Pemko Padang, kurang menggeliat dan bergerak lambat. Kalaupun ada, itu hanya pekerjaan rutin yang dilakukan bagian Operasional dan Pemeliharaan (OP) Dinas PUPR. Bukan suatu kinerja yang membuat denyut pembangunan bergerak cepat.
Dari beberapa item pekerjaan masuk ‘Padang Rancak’, seperti Taman Tematik Per Kecamatan, Revitalisasi Pasar Raya dan Pasar Satelit, Pengendalian Banjir Terpadu, Pengelolaan Sampah Terpadu, Penataan TPA Modern, Perbaikan Jalan dan Drainase, masih belum optimal. Ada juga yang belum tersentuh sama sekali
Pekerjaan Rutin
Fakta dilapangan, untuk beberapa item pekerjaan, seperti perbaikan jalan dan drainase. Itu merupakan pekerjaan rutin dan juga dilakukan walikota sebelumnya. ‘Tambal sulam’ jalan yang rusak sudah dilakukan ‘zaman katumba’. Penggerukan sedimen drainase itu pekerjaan biasa dan dilakukan setiap tahun.
Lalu, ada lagi pekerjaan biasa, namun menjadi luar biasa, karena beritanya. Seperti trotoar dan median taman jalan. Itu juga sudah dilakukan, setiap pergantian walikota. Pengelolaan sampah, meski ada sedikit pembeda. Tapi, bukan langkah luar biasa. Sementara, beberapa item pekerjaan lain, belum tersentuh oleh 100 hari kepemimpinan Fadly Amran – Maigus Nasi
Daerah Pinggiran Terpinggirkan
100 Hari Kepemimpinan Fadly -Amran – Maigus Nasir, juga menuai sorotan, terutama tambal sulam jalan. Soalnya, ‘tumbok manumbok’ jalan itu, masih berputar di kawasan perkotaan, tak tersentuh daerah pinggiran. Padahal jalan balubang ‘gadang gadang, beresiko tinggi saat melintasi jalan itu. Apalagi, saat hujan turun menutup lubang jalan
Ini perlu menjadi perhatian. Jangan sampai ada asumsi, daerah pinggiran terpinggirkan pembangunan. Pemerataan pembangunan, perlu dilakukan. Sehingga, tak ada lagi istilah ‘anak tiri’ menyertai kepemimpinan Fadly Amran – Maigus Nasir.
Penulis
Novri Investigasi


