
Sudah menjadi rahasia umum, ketika masuk tahun politik, termasuk Pilkada, tentu ada Tim Sukses (Timses) mengiring perjuangan untuk meraih tahta. Bukan sendirian, berkelompok dan terbagi beberapa tingkatan. Ada Timses Ring 1, Ring 2 dan Ringstone (Tukang sorak). Tugasnya pun berbeda sesuai tingkatan.
Biasanya, untuk Ring 1, orang mempunyai pengaruh yang kuat. Termasuk kuat modal untuk membiayai cost politik yang tinggi. Begitu juga Ring 2, bergerak di lapangan mencari suara dan mempengaruhi massa. Beda dengan Ringstone, tukang sorak sekedar memanaskan suasana
Mereka berjuang untuk memenangkan calon yang diusung, pasti punya maksud tertentu. Apalagi, Ring 1 yang habis habisan, baik pikiran, tenaga dan materi . Sebagai investor penyumbang dana, setelah menang terpikirkan bagaimana mengembalikan modal disertai keuntungan. Namanya bisnis politik, Ring 1 tak ingin rugi.
Begitu juga Ring 2 dan Ringstone (Tukang sorak), mengaku berdarah darah dilapangan, juga berharap imbalan. Meski, porsinya tak sama dengan Ring 1, tapi ada pengobat lelah dan penambah belanja ‘Urang Rumah’. Misalnya, Ring 1 dapat paket proyek bernilai miliyaran, mereka hanya berharap paket Penunjukkan Langsung (PL) dibawan Rp200 juta.
Asal Muasal, Tak Ada Makan Siang yang Gratis
Tak ada makan siang yang gratis (No free lunc), darimana asal kalimat tersebut. Lalu apa makna terkandung didalamnya dan apa hubungan dengan dunia politik. Sebenanya, kata bijak itu sederhana dan mudah dicerna. Terutama berkaitan dengan dunia politik.
Ya, kira kira, biaya politik itu mahal, tak bisa didapat dengan cuma cuma. Take and give, kata orang sana. Awalnya, No free lunc ini, muncul tahun 1800 an. Biasanya, dilakukan untuk menarik pelanggan pemilik bar. Dikupas Majalah New York Times tahun 1972, banyak di Crescen City (News Orleans) Amerika Serikat, menawarkan makan siang gratis.
Gratis itu, hanya makanan, tetapi jika ingin minum harus bayar. Intinya, berkedok gratis makanan, minuman tetap bayar. Dan, di bar itu, tertulis No Free Lunc. Begitu juga dalam bidang perekonomian, ungkapan No Free Lunc, berkaitan dengan konsep biaya peluang. Intinya, untuk setiap pilihan yang dibuar, ada alternatif tidak dipilih dan ada yang memberi manfaat.
Seperti, produk dan layanan diberikan secara gratis kepada langganan tertentu. Padahal, sebenarnya biaya ditanggung oleh orang lain. Caranya, memberikan diskon di suatu wilayah, tapi menaikkan harga diwilayah lain. Tentu, timbul pertanyaan, bagaimana hubungan istilah itu didunia politik dan adakah kesamaan dengan money politik, sebab tujuannya sama
Pertama kali dikampanyekan mantan walikota New York City Fiorella H. La Guardia. Idiom ini digunakan dalam kampanye melawan kejahatan dan korupsi. Tidak ada makan siang yang gratis itu, melakukan sesuatu dengan maksud tertentu. Ya, ada udang dibalik batu. Ibaratnya, untuk mendapatkan kekuasaan, kedudukan dan jabatan, mustahil tanpa biaya. Sebab, segalanya sesuatu harus menggunakan uang.
Lalu, bagaimana dengan Pilkada 2024
Pada Pilkada 2024 lalu, termasuk juga Kota Padang, para calon, membentuk tim pemenangan yang disebut juga dengan Tim Sukses (Timses). Calon tak mungkin bisa menang, tanpa ada tim yang bergerak dilapangan dan ikut membiayai biaya Pilkada yang tinggi.
Begitu juga Timses, mereka mau bergabung. Berkorban waktu, tenaga, pikiran dan materi, pasti ada yang diharapkan, jika jagoannya menang. Proyek dan jual beli jabatan menjadi incaran untuk mengembalikan modal. Nah, sekarang jagoannya sudah menang. Sudah meraih kekuasaan.
Tinggal meminta balas jasa perjuangan selama ini. Pintu itu, terbuka lebar. Seiring dimulainya tender proyek dan mutasi jabatan. Timses mulai bergerilya, merangkap walikota malam, menjadi perpanjangan tangan kepala daerah terpilih. Bagaimana modusnya? Bersambung
Penulis
Novri Investigasi


