
Baru saja selamat dari jurang degradasi Liga 1 musim 2024 – 2025, Semen Padang FC, diterpa badai Registration Ban. Disaat tim lain, berpacu mencari pemain baru untuk menambah kekuatan mengarungi Liga 1 musim 2025 – 2026, Semen Padang FC, malah bertahan dengan kekuatan lama. Keraguanpun mengiringi perjuangan Semen Padang FC, mengarungi Liga 1 musim 2025 – 2026. Sebab, masih mengandalkan skuad lama
Pasalnya, Semen Padang FC, klub kebanggan ‘Urang Awak’ itu terkena sanksi registration ban oleh Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA). Tak tanggung tanggung, sanksi diberlakukan 9 Juni 2025, dan akan berlangsung selama tiga periode jendela transfer. Artinya, tak bisa mendaftarkan pemain baru ke PSSI, meski masih diperbolehkan merekrut pemain secara administratif internal.
Masalah ini mencuat, berawal sengketa pembayaran kompensasi kepada mantan pemain asing mereka, Bruno Dybal disebabkan haknya belum dipenuhi. Iapun langsung melayangkan pengaduan ke FIFA tanpa melalui federasi lokal atau negosiasi tertutup.
Ironi terjadi, FIFA merespon cepat dan tegas dan sanksinya Semen Padang FC masuk daftar hitam dalam FIFA Registration Ban List, yang menjadi acuan global bagi seluruh federasi, klub, dan agen transfer pemain.
Badai ini,
bagi Semen Padang FC, bukan sekadar catatan administratif. Tapi, ancaman nyata terhadap kekuatan tim menghadapi musim kompetisi mendatang.
“Ini terkait langsung dengan pembayaran kompensasi kepada Bruno Dybal. Dia langsung lapor ke FIFA, bukan lewat jalur lokal. Tapi kami, manajemen, akan bertanggung jawab dan menyelesaikan persoalan ini,” ujar Win Bernadino, CEO Semen Padang FC, dalam pernyataan resminya.
Menurut Win, pihak klub sudah memiliki skema pembayaran yang disepakati bersama Dybal. Ia optimis masalah ini akan rampung sebelum jendela transfer berikutnya dibuka. “Yang jelas, target kami masalah ini selesai sebelum bursa transfer aktif. Kami tidak ingin kehilangan momen membentuk tim yang solid,” lanjutnya.
Bukan Sanksi Pertama
Menariknya, ini bukan kali pertama Semen Padang FC harus berurusan dengan sanksi administratif. Win Bernadino mengungkapkan, sebelumnya klub juga pernah menghadapi persoalan serupa dengan mantan pemain asing lainnya, Scott, meskipun kasus itu tidak sampai naik ke meja FIFA.
“Kasus Scott juga sempat ramai di media sosial. Tapi dia tidak lapor ke FIFA, hanya lewat ACI. Kita berhasil menyelesaikan itu. Sekarang, soal Dybal, kami percaya bisa diselesaikan juga.”
Namun begitu, kasus yang terulang ini seakan menjadi cermin besar bagi manajemen. Ini bukan sekadar soal uang atau dokumen, tapi tentang profesionalisme dan kepercayaan dalam mengelola klub sepak bola. Dengan beban sejarah dan loyalitas suporter yang begitu kuat, kesalahan serupa bisa menjadi bumerang yang mahal.
Sekilas Registration Ban
Sekedar mengingatkan,
Registration ban adalah larangan yang dikeluarkan FIFA kepada klub yang melanggar regulasi transfer pemain baik karena tunggakan gaji, kompensasi, hingga pelanggaran kesepakatan kontrak. Klub yang masuk dalam daftar ini tetap bisa menjalani pertandingan, tapi tidak diizinkan untuk mendaftarkan pemain baru selama sanksi berlaku.
Sanksi ini tercantum dalam FIFA Registration Ban List, daftar yang bersifat publik dan dijadikan rujukan oleh asosiasi nasional, konfederasi, agen, dan pemain di seluruh dunia. Tujuannya adalah menjaga transparansi, profesionalisme, dan perlindungan hak-hak pemain.
Masih Ada Waktu, Tapi Tidak Banyak
Dengan sanksi yang mulai berlaku sejak awal Juni dan jendela transfer baru akan dibuka dalam waktu dekat, Semen Padang FC berpacu dengan waktu. Klub harus segera menuntaskan pembayaran kompensasi kepada Bruno Dybal agar bisa mencabut sanksi dan kembali aktif di bursa transfer.
Jika tidak, mereka berisiko tampil pincang dalam persiapan menghadapi musim baru tanpa tambahan tenaga baru, tanpa fleksibilitas. Dapatkah, Semen Padang FC mengatasu badai yang menghantam jelang mengarungi kompetisi musim 2025 – 2026. Kita tunggu saja. Nv


