
Oleh: Yaser Arafat, SH
Memasuki tahun ke dua kepemimpinan Bupati Pasaman Barat, publik berhak bertanya dengan lantang, ke mana arah pemerintahan ini berjalan? Apakah janji-janji hanya berhenti sebagai slogan, atau telah menjelma menjadi kerja nyata yang dirasakan rakyat? Refleksi bukan basa-basi, melainkan pengadilan moral terhadap kekuasaan.
Seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa banyak pujian yang ia terima, melainkan dari seberapa kuat ia bertahan menghadapi kritik. Kritik adalah suara realitas yang tidak bisa dibungkam dengan seremoni atau pencitraan. Ia hadir sebagai pengingat bahwa kekuasaan tidak pernah absolut.
Masalahnya, tidak semua pemimpin siap bercermin. Kritik sering dianggap sebagai serangan, bahkan ancaman terhadap wibawa. Padahal, justru dari kritiklah seorang pemimpin dapat mengetahui letak kegagalan dan kekurangannya secara jujur.
Lebih berbahaya lagi ketika di sekitar kekuasaan tumbuh subur budaya menjilat. Kalimat “asal bapak senang” menjadi mantra yang merusak akal sehat birokrasi. Ini bukan loyalitas, melainkan pengkhianatan yang dibungkus kepatuhan semu.
Orang-orang seperti ini tidak pernah berbicara tentang kebenaran. Mereka hanya berbicara tentang apa yang ingin didengar oleh atasan. Mereka menghapus fakta, memoles kebohongan, dan menyajikannya sebagai keberhasilan.
Inilah racun paling mematikan dalam kepemimpinan. Ketika seorang bupati lebih sering mendengar pujian daripada kritik, maka saat itu pula ia sedang dijauhkan dari kenyataan. Kekuasaan berubah menjadi ruang ilusi yang meninabobokan.
Sejarah telah berulang kali membuktikan, banyak pemimpin jatuh bukan karena musuh di luar, tetapi karena lingkaran dalam yang menyesatkan. Mereka dikelilingi oleh orang-orang yang menutup mata terhadap kesalahan, dan menutup telinga terhadap suara rakyat.
Kritik dari masyarakat, khususnya pemuda, harusnya disambut sebagai energi perubahan. Itu tanda bahwa rakyat masih peduli. Ketika kritik dibungkam, maka yang tersisa hanyalah ketakutan dan kepalsuan.
Seorang pemimpin yang kuat adalah yang berani dikoreksi. Ia tidak alergi terhadap perbedaan pendapat. Ia justru mencari suara-suara yang berani jujur, bukan yang pandai menyenangkan.
Sebaliknya, pemimpin yang lemah adalah mereka yang hanya nyaman dalam tepuk tangan. Ia membangun tembok tinggi agar kritik tidak masuk. Namun, tanpa ia sadari, tembok itu juga menghalangi kebenaran.
“Yang paling berbahaya adalah orang yang selalu berkata ‘asal bapak senang’ di hadapan bupati.” Kalimat ini bukan sekadar peringatan, tetapi alarm keras bagi setiap kekuasaan. Karena dari sanalah kehancuran sering dimulai.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kebijakan akan kehilangan arah. Keputusan tidak lagi berdasarkan kebutuhan rakyat, melainkan berdasarkan selera kekuasaan. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah publik.
Refleksi satu tahun ataumupun memasuki tahun ke dua seharusnya menjadi momentum untuk membersihkan lingkaran kekuasaan dari budaya menjilat. Pemimpin harus berani membuka ruang kritik seluas-luasnya, tanpa rasa takut kehilangan wibawa.
Pada akhirnya, kritik bukan musuh. Ia adalah cermin yang menunjukkan wajah asli kepemimpinan. Yang harus ditakuti bukanlah kritik yang keras, tetapi pujian palsu yang perlahan menghancurkan dari dalam. (*)


