
Tak terbantahkan, memang kenyataan. Itu terjadi setiap tahun dan keterlibatan rekanan lokal terus menurun. Dana APBD Sumbar, untuk pekerjaan infrastruktur, lebih banyak beredar di luar. Sebab proyek dikerjakan rekanan di luar Sumbar. Begitu uang proyek untuk pembangunan infrastruktur Sumbar berasal dari dana APBN, juga banyak beredar diluar dimana rekanan itu berasal
Pedih, perih menusuk hati. Rekanan lokal hanya menjadi penonton di negeri sendiri. ‘Bak Ayam Mati di Lumbung Padi’ itu nasib yang dialami. Proyek yang ada didaerahnya, dikuasai rekanan luar. Kalaupun dapat, itupun hanya remah remahnya, sebab rekanan cuma subkon/supplier material dengan margin, pembayaran pun sering terlambat
Ibaratnya, kalaupun rekanan lokal dilibatkan sebagai subkon, mereka hanya menikmati tulang dan berharap sedikit daging menempel di tulang. Sementara, rekanan luar bekerja di Sumbar, mendapatkan daging, itupun dibawa ke kampung halamannya, dimana perusahaannya berasal. Ya, mencari uang di Sumbar, dihabiskan di luar Sumbar
Sebab, saat rekanan luar bekerja di Sumbar, belanja material, bayar tenaga ahli, bawa tenaga kerja juga dibawa. Kalaupun ada pekerja lokal, cuma sebagai tenaga kasar dan harian lepas. Ironinya, operasional perusahaan, gaji karyawan, simpan profit dan PPN/PPH perusahaan dibayar dari hasil didapat di Sumbar
Prioritaskan Rekanan Lokal
Diakui, memang banyak persoalan, rekanan lokal terkendala proyek berskala besar, disebabkan syarat tender tinggi, pengalaman, modal, sertifikat ISO menjadi kendala. Paket proyek seharusnya bisa dipecah dan dimanfaatkan rekanan lokal, malah digabungkan jadi paket besar.
Alasan efesien, justru ‘membunuh’ rekanan lokal. Rekanan luar dan plat merah memang dibutuhkan, apalagi proyek teknologi khusus, proyek pemerintah maupun bantuan presiden yang bisa dilakukan Penunjukkan Langsung (Perpres 46 Tahun 2025, pasal 18 ayat 5), SDM bersertifikat langka maupun deadline atau waktu mendesak.
Tapi, setidaknya berikan dan wajibkan kepada rekanan besar memberikan 30 % subkon ke rekanan lokal. Solusi lain, paket bisa dipecah sesuai kemampuan rekanan lokal. Apalagi, Perpres tentang Pengadaan Barang dan Jasa menyebutkan, usaha kecil wajib dilibatkan. Utamakan peran masyarakat jasa konstruksi setempat
Rekanan Lokal Butuh Hidup dan Punya Tanggungan
Banyaknya paket proyek di Sumbar dikerjakan rekanan luar, membuat rekanan lokal kehabisan nafas. Padahal, rekanan lokal disamping butuh kelangsungan hidup, juga memperkerjakan pegawai. Makanya, pekerjaan proyek baik menggunakan dana APBD maupun APBN, sebaiknya memperkuat keterlibatan rekanan lokal.
Infrastruktur itu, bukan dilihat dari sisi fisik semata, juga dampak terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah. Sehingga, keterlibatan rekanan lokal menjadi penting agar manfaat pembangunan dapat dirasakan merata dan secara lebih luas
Keuntungan lain, ekonomi lokal berputar, serapan tenaga kerja lokal lebih banyak. UMKM pun menggeliat, baik toko bangunan, sewa alat sampai warung di lokasi pekerjaan. PAD pun naik, pajak dan retribusi masuk kas daerah. Begitu juga segi pelaksanaan dilapangan, rekanan lokal sudah tahu resiko dihadapi, baik cuaca, jalur logistik yang rawan dan macet.
Hubungan dengan masyarakat terjalin, mengurangi gesekan dan memuluskan pekerjaan. SDM lokal jadi naik kelas, sehingga melahirkan kontraktor yang kuat. Terakhir, kalau ada komplain atau perbaikan masa pemeliharaan, rekanan lokal lebih mudah dihubungi. Tanpa drama ditinggal kabur setelah PHO. Bersambung
Penulis
Novri Investigasi


