
PADANG, INVESTIGASI_Duka bencana banjir dan longsor yang meluluhlantakan Ranah Minang, menyisakan duka yang mendalam. Perkampung, sawah dan ladang, rata dengan tanah. Tak ada yang tersisa, hanya air mata menemani kepiluan.
Berharap, derita akan berakhir dan mulai menata hidup baru, derita pun kian bersahabat. Krisis air bersih menambah derita panjang. Warga Kecamatan Pauh dan Kuranji, tak berhenti dirudung malang. Air bersih yang selama ini dianggap biasa, kini menjadi harapan langka
Sesuatu yang dinikmati selama ini. Gunung Nago dan Batang Kuranji yang mengalir jernih, kini kekeringan. Entah apa yang terjadi, selama ini dinikmati tanpa berpikir dua kali menjadi barang langka bagi ribuan keluarga terdampak bencana. Kini berharap belas kasihan untuk mendapatkan air bersih untuk kebutuhan
Selamat Datang Bulan Ramadhan dengan Krisis Air Bersih
Kalimat bermakna, keluar dari mulut Wahyu Hidayat, Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kota Padang. Kalimat sindiran yang memilukan ” Selamat datang bulan Ramadhan dengan Krisis air bersih. Haruskah kita menyambut bulan Ramadhan dengan hati jernih di tengah krisis air bersih”.
Dikatakan sosok yang vokal ini, persoalan krisis air bersih ini, butuh penanganan bersama. Yang membuat Wahyu Hidayat kecewa, Pemko Padang baru mengajukan titik pembuatan sumur bor ke Balak Cipta Karya sebagai perpanjangan tangan Kementerian PU untuk percepatan bencana Sumbar, khususnya air bersih.
“Itupun yang diusulkan cuma lima titik di Kota Padang,” ulasnya, seraya mengatakan, fatalnya tidak berkoordinasi dengan Balai Cipta Karya untuk percepatan penanganan krisis air bersih ini.
Teknisnya, lanjut Wahyu Hidayat, Balai Cipta Karya, sebenarnya siap untuk membuat ratusan titik di Kota Padang. Sayang seribu kali sayang, data masuk cuma 5. Parahnya, dana darurat itu, hanya bisa dipakai sampai bulan Maret 2026.
“Hal mustahil, untuk pengerjaan ratusan titik secara masif. Sebab, pertanggal 21 Januari, solusi krisis air bersih hanya 5 titik sumur bor,” katanya menyesali.
Penulis Novri Investigasi


