
BENGKULU, INVESTIGASI — Pemerintah Kota Bengkulu telah merampungkan 100 persen pembangunan jembatan penghubung di perbatasan Kelurahan Pematang Gubernur dan Kelurahan Bentiring. Infrastruktur baru ini dibangun sebagai solusi atas keluhan warga terkait banjir yang kerap melanda kawasan tersebut dan dijadwalkan segera diresmikan dalam waktu dekat.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bengkulu, Noprisman, memastikan seluruh proses konstruksi fisik jembatan berjalan lancar tanpa kendala berarti.
”Jembatan sudah rampung dan dalam waktu dekat akan diluncurkan oleh Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi dan Wakil Wali Kota Ronny PL Tobing,” ujar Noprisman, Kamis (29/10/2026).
Pembangunan jembatan ini merupakan respons cepat pemerintah menanggapi keluhan masyarakat. Sebelumnya, wilayah perbatasan tersebut sering menjadi langganan banjir akibat struktur gorong-gorong lama yang sudah tidak mampu menampung debit air yang tinggi.
Realisasi proyek ini berawal dari koordinasi lintas sektoral, di mana Dinas PUPR menerima laporan dari jajaran kepolisian resor setempat terkait titik-titik rawan banjir di kawasan tersebut.
”Sebenarnya Dinas PUPR sudah mengidentifikasi lokasi-lokasi tersebut sejak tahun 2023, namun saat itu masih terkendala anggaran. Alhamdulillah, tahun ini bisa direalisasikan,” tambahnya.
Pengangkatan Nilai Sejarah Lokal
Selain berfungsi mengatasi banjir, jembatan ini diusulkan untuk diberi nama yang sarat nilai historis, yakni “Jembatan Air Pecah Pinggan”. Penamaan ini bertujuan untuk melestarikan sejarah dan asal-usul wilayah dusun tua di kawasan tersebut.
Berdasarkan cerita turun-temurun para tetua adat, wilayah Talang Kering awalnya merupakan sebuah dusun tua. Ketika pemerintah kolonial Belanda membuka jalur penghubung Bengkulu–Curup, masyarakat Talang Kering bermigrasi ke wilayah Tanjung Agung dan Tanjung Jaya agar lebih dekat dengan akses jalan raya dan aliran sungai.
Akibat migrasi tersebut, kawasan Talang Kering perlahan ditinggalkan dan kembali menjadi hutan belantara. Seiring pertumbuhan populasi, warga dari Tanjung Agung dan Tanjung Jaya kembali memanfaatkan bekas lahan tersebut untuk berkebun.
Istilah “Padang Pecah Pinggan” lahir dari percakapan para petani masa itu. Kata padang merujuk pada areal yang dulunya berupa hutan, sedangkan pecah pinggan merujuk pada banyaknya temuan pecahan piring kuno peninggalan dusun tua di dalam tanah saat warga membuka lahan.
Kawasan ini kemudian berkembang pesat, terutama sejak era kepemimpinan Gubernur Soeprapto yang membangun akses jalan raya membelah Rawa Makmur hingga Bentiring Permai.
Kehadiran jembatan baru ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan genangan air di musim hujan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenang sejarah perpindahan peradaban masyarakat di Kota Bengkulu.
Penulis: M. Martanus


