
Janiah aianyo Danau Singkarak
Rami dek urang pai manyilam
Alah 10 tahun proyek ko mangkrak
Samakin suram wajah Mak Hitam
Tatuik kabuik Kawasan Mande
Bagaluik awan di pagi hari
Hujan turun patuih manimpo
Tasabuik juo dek Andre Rosiade
Rp300 M mangaktifkan jalur kereta api
Kok lai ka sabananyo
Kabar bahagia menyelimuti dunia perkereta apian Sumbar. Pemerintah pusat dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo, menganggarkan Rp300 miliyar untuk mengaktifkan kembali jalur kereta api yang menghubungkan sejumlah daerah di Ranah Minang
Bukan isu belaka, bukan juga cerita tanpa fakta. Informasi ini mengemuka melalui unggahan di akun Instagram resmi @andre_rosiade, politis Partai Gerindra. Disebutkan, program revitalisasi ini, akan menyasar rute Pariaman – Padang Panjang – Singkarak – Solok – Muaro Kalaban – Sawahlunto
Alasannya, pembukaan konektifitas antar daerah ini, akan mampu menekan biaya logistik yang selama ini menjadi salah satu kendala utama perekonomian di Ranah Bundo ini. Terpenting lagi, bisa mendorong pertumbuhan masyarakat sebenarnya. Apakah ini akan terwujud, setelah proyek untuk jalan ‘Mak Hitam’ ini sudah lama mangkrak
Mangkrak Sejak Tahun 2016
Lalu, kenapa ini terjadi. Entahlah, semua misteri, tak ada jawaban pasti. Namun, secara ringkas diurai, kenapa ini terjadi. 2015 lalu, Pemrov Sumbar, menindaklanjuti program pemerintah pusat untuk mengembangkan jalur kereta api di Pulau Sumatera (Trans Sumantera). 2023, terutama jalur Kereta Api Muara Kalaban – Tanjuang Ampalu. Mega proyek bernilai miliyaran itu, sekarang masih mangkrak. Tak ada kabar berita, hilang tak berkesan. Nasib ‘Mak Hitam’ semakin kelam.
Saat itu, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno dalam rapat di ruang gubernur, tepatnya 30 Januari 2014, dihadiri beberapa OPD, Wakil Walikota Sawahlunto dan pimpinan PT. Kereta Api Cabang Sumatera Barat, mengatakan, khusus koridor 6 dan 8 yang menghubungkan Dumai – Pekanbaru – Sijunjung – Sawahlunto. Dan, Padang – Padang Panjang – Solok – Sawahlunto – Muaro Kalaban
Persoalan yang cukup besar untuk dibahas dan diperhatikan mengenai jalur di lokasi Kabupaten Sijunjung. Sementara, Sawahlunto dalam kondisi siap dalam pengembangan tersebut. Juga disebutkan, tahun 2015, Pemrov Sumbar fokus pada koridor 6. Memaksimalkan penuntasan sesuai tugas kewenangan provinsi, Kabupaten Sijunjung dan Kota Sawahlunto.
Entah apa yang terjadi, itupun kurang terealisasi. Bahkan, menjadi persoalan yang sekarang tak pernah mencuat lagi. Padahal, sudah disosialisasikan, Trans Sumatera Barat, panjang koridor 6 sekitar 254,09 Km dan koridor 8, sekitar 251.01. Namun, 2015 hanya fokus pada koridor 6, karena Pemkab Sijunjung dan Pemko Sawahlunto, telah menyatakan siap mensosialisasikan program tersebut.
Namun, mega proyek dimulai 2015 dan mangkrak 2016, sampai 2023 ini tak ada kabar berita lagi. Padahal, mega proyek miliyaran itu, menindaklanjuti program pusat untuk mengembangkan jalur kereta api di Pulau Sumatera. Banyak rumah warga yang digusur, lahan dibebaskan. Entah mengapa, pekerjaan berhenti begitu saja. Sekarang tanpa kabar berita, hilang tak berbekas.
Padahal, jalur yang menghubungkan antara stasiun Muaro Kalaban (Sawahlunto) dengan stasiun Tanjung Pati (Sijunjung) itu, sudah lama mati suri. Jalur ini bercabang dua. Ke kiri menuju stasiun Sawahlunto Kota melalui terowongan Lubang Kalam. Ke kanam menuju stasiun Padang Sibusuk melalui terowongan Kupitan menuju stasiun Padang Sibusuk.
Selanjutnya, ke stasion Tanjung Ampalu, berakhir di stasion Logas. Jalur Death Raiflaways bermula dari stasion Logas. Untuk di stasion Tanjung Ampalu, ada dua jalur. Dan, salah satu rumah permanen telah dirobohkan, karena memakai areal milik PT. KAI. Begitu juga dilokasi stasion Padang Sibusuk terdapat juga dua jalur kereta api, itupun sudah dilakukan pembersihan. Itupun ditandai dengan mulainya pekerjaan mega proyek itu.
Sudah lama terbengkalai. Mangkrak dan ditinggalkan begitu. Bahkan, sudah tersebar di medsos keterbengkalaian pekerjaan. Netizen pun bersuara lantang, mempertanyakan penyebab dari semua itu. Disebut sebut, persoalan ini, sudah masuk ke ranah hukum. Namun, sekarang entah apa sebabnya hilang begitu saja. Padahal, sudah delapan tahun berlalu, sejak 2015 lalu.
Kabar berita 2026, anggaran Rp300 M, untuk mengaktifkan jalur kereta api di Sumbar, diharapkan bisa terealisasi. Namun, berharap persoalan lama yang menimpa proyek perkereta apian di Ranah Minang ini, tak terjadi lagi. Sehingga, tak membuat wajah ‘Mak Hitam’ semakin suram. Anggaran Rp300 M itu, diharapkan wajah ‘Mak Hitam’ cerah dan kembali bergairah. Semoga
Penulis
Novri Investigasi
‎


