
Menjawab berita investigasi sebelumnya, BWSS V menjelaskan penyebab terjadi gerusan pada kaki Bronjong pasir di Kampung Kalawi dan Kampus Adzkia, Kota Padang.
Latar belakang, Bronjong Berbungkus Geotekstil merupakan konstribusi non permanen yang dibangun dengan memanfaatkan material setempat, yaitu pasir sebagai counterweight.
Konstruksi ini, digunakan dalam kondisi darurat untuk melindungi tebing sungai dari ancaman erosi dan kerusakan lebih lanjut
Pemilihan Bronjong pasir di lokasi tersebut, karena material yang tersedia di lapangan hanya pasir. Dalam pekerjaan tanggap darurat, prinsip utama adalah memanfaatkan bahan yang ada di lokasi agar ada penanganan dapat segera dilakukan.
Hal ini juga berlaku pada pekerjaan penanganan pasca bencana di Sungai Batang Kuranji, dimana metode yang digunakan berbeda beda (Bronjong batu, Bronjong pasir, geobag dll), sesuai hasil kajian teknis lapangan
Perbedaan metode, bukanlah perlakukan khusus terhadap lokasi tertentu, melainkan penerapan rekayasa teknik yang disesuaikan dengan geometri sungai, karakteristik tanah, tingkat kerusakan, kecepatan aliran, akses pelaksanaan serta efektifitas penanangan.
Penyebab Bronjong Pasir Ambruk
Melalui jawaban BWSS V, juga menjelaskan penyebab kejadian. Dalam kurun waktu dua Minggu terakhir wilayah Kota Padang mengalami intensitas curah hujan yang meningkat signifikan.
Kondisi ini, menyebabkan kenaikan debut sungai yang cukup tinggi. Sehingga, menimbulkan gerusan pada kaki Bronjong pasir, berakibat konstruksi darurat mengalami kerusakan
Berdasarkan pengamatan awal lapangan, kerusakan sebagian konstruksi Bronjong juga diduga dipengaruhi oleh gerusan dasar sungai (local scouring) dan perubahan morpologi sungai akibat meningkatkanya debit serta kecepatan aliran saat hujan intensitas tinggi
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi dukungan tanah pada pondasi sehingga mengakibatkan penurunan dan pergeseran struktur. Namun, demikian penyebab pasti hanya ditetapkan melalui evaluasi teknis menyeluruh
Landasan Regulasi
Penggunaan bronjong pasir sebagai langkah darurat mengacu kepada Permen PUPR No.13/PRT/M/2015 tentang Penanganan Darurat Bencana Akibat Daya Rusak Air. Dalam regulasi itu, disebutkan, penanganan darurat dapat menggunakan material lokal yang tersedia dilapangan untuk mempercepat perlindungan terhadap masyarakat
Konstruksi darurat seperti Bronjong pasir tidak dimaksudkan sebagai bangunan permanen, melainkan sebagai solusi cepat untuk menahan laju erosi dan aliran sungai hingga permanen dapat dilaksanakan
Penegasan
Bronjong pasir bukanlah bangunan permanen, melainkan solusi sementara dalam penanganan darurat. Kerusakan yang terjadi merupakan konsekwensi dari kondisi alam yang ekstrem
BWS Sumatera berkomitmen melakukan pemantauan evaluasi teknis serta tindaklanjut agar penanganan darurat segera digantikan dengan konstruksi permanen yang lebih kokoh.
Seluruh pekerjaan penanganan darurat pascabencana termasuk di Sungai Batang Kuranji. Bertujuan mengurangi resiko kerusakan lanjutan, melindungi masyarakat mengamankan infrastruktur terdampak serta menjaga fungsi sungai
Penutup
BWS Sungai V Padang senantiasa mengedepankan transparansi dan keterbukaan informasi dalam setiap kegiatan. Perlu dipahami bahwa Bronjong pasir Berbungkus Geotekstil adalah bagian upaya tanggap darurat dan bukan solusi permanen. Oleh karena itu, kejadian seperti yang diberitakan sangat mungkin terjadi, mengingat sifat konstruksi darurat yang bergantung pada kondisi alam dan material setempat
Catatan Redaksi
Terima kasih atas hak jawab yang diberikan. Namun, masih ada beberapa persoalan yang perlu juga dijelaskan.
Untuk peristiwa darurat yang sifatnya mengancam keselamatan jiwa , ketertiban dan kepentingan umum, termasuk ambruk Bronjong dan longsor yang putus, itu masuk kategori informasi berkala dan informasi serta merta
10 hari itu, mengajukan permohonan data detail ke PPID, setelah kejadian, kronologi, anggaran dan penyebab.
Kesimpulan, menyebarkan informasi bahaya, wajib langsung, tak perlu tunggu 10 hari. Tujuannya mencegah korban.
Karena darurat, ambruknya bronjong pasir itu, sudah dikonfirmasikan via WA. Bahkan, satu hari diberikan kesempatan untuk menjawab, namun tak dimanfaatkan.
Terkait jawaban, masih ada menyimpan keraguan. Satu kalimat, penyebab pasti hanya dapat ditetapkan evaluasi menyeluruh. Berarti jawaban, hanya berdasarkan berita masuk. Dan, tak melihat kondisi langsung dilapangan
10 rentang waktu untuk menjawab, belum dilakukan evaluasi menyeluruh (lebih baik melihat dengan mata kepala satu kali, daripada menerima laporan seribu kali)
Artinya, jawaban belum menyentuh inti persoalan. Disisi lain, geobag diisi pasir, tapi di lokasi sama ditemukan geobag berisikan batu, mengakibatkan geobag robek. Apakah ini dikatakan dilakukan pengawasan. Inipun sudah diberitakan media ini.
TTD
Pimpinan Redaksi


