
Pemeliharaan jalan, memang menjadi sumber penghasilan tambahan. Karena, anggaran digelontorkan setiap tahun. Baik itu, anggaran melalui APBN untuk pemeliharaan jalan nasional, maupun APBD untuk pemeliharaan jalan provinsi, kabupaten dan kota
Perbaiki, rusak lagi, perbaiki rusak, itu yang terjadi. Bak lingkaran, terus berputar dipusaran. Siapa yang disalahkan. Tak sulit mendapat jawaban, bisa jadi disebabkan pekerjaan tak sesuai spesifikasi teknis dan terkesan asal asalan. Diperparah untuk pemetakan tambal sulam jalan, alat digunakan tak sesuai kebutuhan
Pemetakan Gunakan Breaker Tangan
Dari telusuran terhadap pekerjaan pemeliharaan jalan. Ada kejanggalan yang disaksikan, bahkan terkesan dibiarkan tanpa pengawasan. Kejanggalan yang sudah menjadi ‘penyakit tahunan’, terjadi pada pemetakan tambal sulam jalan. Sebab, untuk pemetakan, menggunakan breaker tangan
Biasanya, sering terjadi pada pekerjaan jalan provinsi, kota dan kabupaten. Apalagi, pekerjaan jauh dari keramaian, rentan dimainkan. Untuk pemetakan tambal sulam, menggunakan alat seadanya. Bahkan, cangkul dan linggis ikut serta memetak aspal jalan yang rusak
Dan, sering terjadi pemetakan tambal sulam menggunakan breaker tangan. Salah satunya, tertangkap kamera, pemetakan tambal sulam Pemeliharaan simpang jalan lingkar menuju GOR Nagari sikabu Kabupaten Padang Pariaman. Breaker tangan memecah kesunyian dan debu berterbangan
Resiko Gunakan Breaker Tangan
Tujuannya dilakukan pemetakan tambal, untuk memotong area yang rusak (lubang) agar mudah diganti (tambal sulam) untuk membuat pola potongan terhadap. Dan, ini tak tercapai jika menggunakan breaker tangan. Sebab, akan mengakibatkan tepi lubang tambalan tidak rata dan tidak rapi
Resiko lain, tepi yang tidak rata, menganggu pengikatan (adhesi) antara material tambahan baru dan aspal lama. Terjadi keretakan struktur sekitar, disebabkan gaya tumpukan yang kuat dari breaker. Berujung, terjadinua retakan tambahan pada aspal di sekitar area yang ditambal.
Dan, sangat berpotensi mempercepat kerusakan dimasa mendatang. Intinya, metode manual ini, cendrung kurang efesiensi dalam mengangkat aspal yang rusak sepenuhnya dari area perbaikan. Nah, kenapa masih terjadi di dilapangan. Kenapa dilakukan pembiaran, jika beresiko kerusakan tambahan.
Kenapa Tak Gunakan Cutter Aspal
Lalu, kenapa
tidak gunakan Cutter Aspal (pisau pemotong aspal) untuk pekerjaan pemetakan. Disamping cepat dan efesiensi, juga mempercepat proses kerja jalan dan mengurangi resiko kerusakan material sekitar.
Pemotongan lebih fokus dan terkontrol, meminimalkan getaran berlebihan yang dapat merusak area aspal di sekitar garis potong. Area yang diperbaiki memiliki tepi bersih dan rapi, sehingga penambalan lebih efektif dan tahan lama. Bersambung
Penulis
Novri Investigasi


