
Saya mengenal sosok Bapak Fauzi Bahar dulunya seorang yang “Pamberang”.
Apa saja yang tidak berkenan dihatinya, akan memancing kemarahannya dan berujung dengan kemarahan.
Namun ketika Kota Padang dilanda bencana gempa tepatnya tanggal 30 September 2009, malah muncul rasa salut saya terhadap beliau, apalagi saat kesemrawutan melanda Kota Padang dan sekitarnya.
Dengan gagah perkasa dan jiwa ksatria beliau yang juga mantan militer, semakin membuat saya kagum dan bangga, beliau langsung menuju bibir pantai dengan berlarian dari Balaikota Padang yang saat itu masih di kawasan Jalan M.Yamin, dan saat itu juga beliau menyampaikan bahwa “Tidak ada Tsunami”.
Dari bibir pantai, Bapak Fauzi Bahar langsung mengambil alih Radio Republik Indonesia (RRI) yang berada di Jalan Soedirman, langsung cuap – cuap untuk menenangkan masyarakat yang dipastikan dalam kondisi kalut dan takut.
Yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika beliau menyampaikan, “Bapak Gubernur, Bapak Kapolda, Bapak Danrem, Danlanal, Danlanut, serta seluruh Kasat Pol PP se Sumatera Barat, pasukan saya ambil alih”.
Saya juga salut dan bangga, karena dimanapun terjadinya bencana selalu saja ada Pengungsian, namun di Kota Padang dengan kepiawaian seorang Bapak Fauzi Bahar dalam penanganan gempa, bisa dipastikan tidak ada warga yang mengungsi, dan itu juga sesuai dalam penyampaiannya di RRI yang mana beliau menghimbau kepada seluruh masyarakat yang sudah telah terlanjur mengungsi dan mencari tempat ketinggian agar kembali ke rumah masing-masing. Karena beliau yakin dengan adanya pertolongan dari Allah SWT, bahwasanya “Tidak Akan jatuh daun sehelaipun tanpa ijin dari Allah”.
Alhamdulillah, hari ini tepat tanggal 30 September 2026, 17 tahun kejadian gempa dahsyat melanda kota ini. Kota Padang sudah kembali menggeliat, baik dari sisi pembangunan maupun ekonomi.
Doa dan harapan saya, semoga Bapak Fauzi Bahar selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk selalu menanamkan nilai – nilai Agama, Adat maupun Budaya untuk generasi muda Kota Padang khususnya dan Sumatera Barat umumnya dalam menuju Indonesia Emas 2045.
Slogan Bapak ketika menjabat sebagai Wali Kota Padang,
“Padang Kota Tercinta, Kujaga dan Kubela:


