Oleh : Syarifuddin Arifin

Bagi generasi sekarang, gen Z, bahkan kaum milinieal tentu tidak percaya kalau si Bunian itu ada dan nyata. Urang bunian menjadi mitos yang cukup menakutkan itu, ceritanya hidup di beberapa nagari di daerah kita ini. Kisah Urang Bunian itu kembali diangkat ke permukaan melalui film layar lebar yang siap tayang di Studio XXI Basco Mall City, Trans Mart dan Plaza Andalas pada 17 -19 September ini.
Kisah si Bunian, akhir-akhir ini menjadi suatu kajian dan cukup seksi untuk digarap dalam karya seni. Juli lalu, koreografer tari kontemporer, Jhoni Andra, menggelar tari Si Bunian Palembayan di area terbuka Taman Budaya Padang.
Namun khusus untuk film layar lebar, film Urang Bunian yang disutradarai Rendy Hervy ini, menggarapnya dengan selera kekinian. Kesenyapan hutan dan rintik hujan, ditingkah dengan musik yang penuh kejutan. Si Cebol, machluk peliharaan Rang Bunian yang datang tiba-tiba, cukup membuat kita dicekam suasana mistis yang menyeramkan.
Film yang bermain dengan setting dua dunia ini (alam nyata dan gaib) dibintangi pemain yang cukup kuat. Datuak Hitam (Anton Permana) dengan karakter yang kuat mengantar kisah sejak awal ketika istrinya, Eti diculik Parewa (Pinto Janir) pemegang kunci memasuki alam gaib, dan menyandranya, karena Eti adalah dukun gasiang tangkurak. Demikian juga, ketika Kapten Teddy dan Kevin (Fauzan Nasrul) tersesat di hutan yang menyeramkan. Banyak pantang dalam hutan yang dilanggar Kevin, seperti meludah sembarangan, mengencingi pohon, dan menggoda Nurmala piaraan Parewa di alam gaib. Sementara Teddy, melabuhkan kerinduannya ketika menemukan selendang Annisa, istrinya yang seketika disinari senter ternyata selembar daun kering.
Menggarap film dengan setting di dua alam nyata dan gaib, memerlukan kehati-hatian, terutama saat pengeditan agar tidak terjadi lompatan, jumping logika yang membingungkan. Misalnya, saat istri Syaiful melahirkan, ternyata dibantu oleh Bidan “Annisa” yang dalam kenyataannya masih dalam perjalanan. Kesinambungan kisah melahirkan ternyata tidak muncul pada adegan berikutnya. Sehingga preambul film ini terasa lepas. Beda dengan Eti yang sejak awal sudah dikisahkan Datuak Hitam.
Namun sebagai sebuah film yang meneror penontonnya di setiap adegan selanjutnya, film ini patut dijempoli. Rugi bila tidak menyaksikannya. Calon penonton tentu harus menyiapkan mentalnya, karena kejutan-kejutan dengan musik super stereo cukup menghantam dada kita.
Padang, 14 Septembar 2026.


