
Catatan : Richard, Akb
Saat mulai dirancang dan mulai dibangun kawasan Jalan By Pass Padang ( bebas hambatan), yang meliputi di kawasan Kacamatan Koto Tangah, Kuranji, Pauh dan Kecamatan Lubuk Begalung, sekitar tahun sembilan puluhan terlihat sepi sekali. Karena merupakan lahan persawahan yang dibelah menjadi dua.
Ditengah tengahnya dibangun Jalan By Pass sepanjang sikitar 22 Km, membentang dibeberapa kecamatan tersebut diatas.
Sekitar tahun tersebut mulailah di planning lahannya dan mendata satu persatu pemilik lahan, untuk dinego dan pemberian ganti rugi.
Konon kabarnya dirancang/ diplanning saat Walikota Padang/ Gubernur Sumbar Hasan Basri Durin sekitar tahun delapan puluhan. Dan dilanjutkan oleh pimpinan berikutnya, seperti Syahrul Ujud, Zuiyen Rais, Fauzi Bahar, Mahyeldi , Hendri Septa .
Tapi dari sekian pimpinan Kota Padang yang terlibat langsung dalam penuntasan Jalan By Pass tersebut, mungkin Fauzi Bahar yang paling “Marasai”. Dengan upatan, hujatan, caci maki oleh warga sekitar dan sebagainya.
Meskipun Fauzi Bahar sebagai putra Koto Tangah, sekitar tahun 2010/ 2012 bukan halangan bagi sejumlah warga untuk mencaci maki Fauzi, terutama saat pembebasan ulang lahan yang sudah diganti rugi pada tahun tahun sebelumnya, oleh pimpinan sebelumnya.
Memang perjuangan mewujudkan Jalan By Pass tersebut penuh dengan dinamika serta suka duka. Pro dan kontra. Akhirnya kini menjadi salah satu jalan alternatif yang sangat indah, dan padat merayap pada jam jam tertentu.
Karena ide awal pembangunan jalan by pass adalah untuk mengantisipasi kemacetan jalan dari arah tabing Padang ke arah Bukittinggi, dan sebaliknya.
Juga untuk kelancaran arus barang dari Teluk Bayur ke berbagai kawasan Sumbar, terutama arah Bukittinggi, Bandara dan sebagainya.
Ternyata jalan alternatif By Pass Padang tersebut kini.menjadi primadona dan macet juga akhirnya, berkat begitu pesatnya kemajuan daerah, kendaraan semakin berjubel.
Kawasan jalan by pass semula diperuntukkan sebagai kawasan industri. Tetapi begitu pesatnya tuntutan zaman/ kemajuan,
Akhirnya juga diperuntukkan sebagai centra perdagangan, kuliner, dan perkantoran.
Terminal antar kota antar propinsi ( AKAP) yang berdiri di kawasan Air Pacah dan runtuh/ hancur akibat gempa besar September 2009,.lalu lahannya disulap menjadi pusat perkantoran Pemda, dan DPRD. Melalui sebuah Kepres semasa kepemimpinan walikota Fauzi Bahar. Jadilah kini dua gedung yang sangat megah, indah, kokoh dan mampu memacu pertumbuhan.perekonomian kawasan by pass sepanjang sekitar 22 km, dari Teluk Bayur sampai ke perbatasan Padang ,di BIM.
Gedung DPRD dibangun semasa kepemimpinan Hendri Septa, yang disign dan diplanning lengkapnya semasa Fauzi Bahar.
Coba lihat sekarang, kawasan Jalan By Pass Padang, ibarat cendawan tumbuh. Bangunan tumbuh menjamur, baik usaha industri, perdagangan, kuliner, pendidikan, dan perkantoran swasta atau plat merah.
Bila dihitung nilai investasi yang tumbuh di kawasan tersebut mungkin ratusan miliar, bahkan bisa mencapai triliunan, perlu di data lagi oleh DPMPTSP ?, sebagai bukti kemajuan pesat di Kota Padang.
Makanya wajar kini, kawasan Jalan Padang By Pass ,yang sebelumnya di planning sebagai jalan bebas hambatan. Tidak lagi By pass ( bebas hambatan). Di jam jam tertentu.macet merayap.
Apalagi di kawasan dekat mall , kuliner dan pusat perbelanjaan lainnya.
Di jam jam sibuk tersebut , sudah sewajarnya Pemko Padang/ Dishub/ Satpol PP , menempatkan aparatnya untuk menjaga ketertiban, kenyamanan dan kelancaran arus lalu lintas di titik titik yang terlihat macet tersebut, Sebagai salah satu pelayanan terbaik kepada warganya, baik siang, sore ataupun malam. Semoga.


