
Basabab hati maraso ibo
Di malam langang baisak tangih
Antah apa sabab jo karano
Carito tambang PETI ilegal tak kunjuang habih
Mangana untuang jo parasaian
Di rantau urang badan tagamang
Alah banyak korban bajatuhan
Nan tambang PETI ilegal makin bakambang
Bialah lah lareh di rantau urang
Takana pituah mande kanduang
Lah maratok Ranah Minang
9 Penambang tatimbun di Sijunjuang
Bakato urang nagari nan ko
Bausaho sakahandak hati
Tambang ilegal manih cando gulo
Mako banyak nan malindungi
Kegiatan ilegal mining yang disebut operasi (PETI), makin menarik untuk ditelusuri. Bahkan, kegiatan ilegal mining itu, menghiasi berbagai media cetak, televisi, online maupun media sosial. Banyak sudah, ditindak lanjuti, namun ada juga yang masih beroperasi sampai kini
Entah apa yang terjadi, jeritan rakyat tak ada arti. Meski, sudah dilakukan razia dibeberapa wilayah, seperti Sijunjung dan Pasaman barat, Kabupaten Solok dan beberapa lokasi di Sumbar, tak membuat jera. Seakan razia formalitas saja. Tutup sementara, beroperasi lagi
Sadisnya, walau banyak korban berjatuhan, oknum aparat dor doran. Tambang ilegal tetap bertahan. Siapa yang menghalangi, akan berhadapan dengan preman atau oknum yang mendapat jatah bulanan
Peristiwa Tragis di Kabupaten Sijunjung
Bencana besar memilukan dan memalukan Ranah Minang. Berita duka menyesakkan dada. Kabar berita berteman air mata. Tragedi longsor di lokasi tambang emas tanpa izin (PETI), menewaskan 9 orang penambang.
Tertimbun material, saat melakukan aktifitas dompeng di Kampung Suntuk, Jorong Koto Guguak, Nagari Guguak, Kecamatan Koto VII, Kamis (14/5/2026, merenggut nyawa penambang
Terkabat berita, peristiwa memilukan itu, terjadi sekitar pukul 12.00, ketika penambang tengah bekerja di kawasan tambang yang berada di titik pertemuan tiga sungai. Kawasan rawan itu, merupakan pertemuan Batang Kuantan, Batang Ombilin dan Batang Sinamar.
Diketahui sembilan penambang tertimbun longsor, menggemparkan Ranah Minang itu, Ujang Kandar (40), Haris (23), Atan (20), Baim (17), Acai (43), Marsel Buyuik (23), Ditol (40), Madi (24) dan Diok (22)
Tambang PETI Ilegal Tetap Bertahan
Jatuhnya korban, akibat tambang PETI ilegal,
masyarakat berharap, pihak Kapolri benar-serius menindak tambang ilegal. Sebab, sudah banyak makan korban. Bahkan, peristiwa memilukan ini, sudah lama terjadi. Longsor dan banjir, mengiringi tambang ilegal itu.
Korban nyawa berjatuhan, rumah dan harta, hanyut terbawa banjir dan tertimbun longsor. Mereka tak perduli. Keserakahan telah menguasai diri. Entah sampai kapan ini terjadi. Jangan tanya pada rumput bergoyang. Karena, mati dilindas eskavator membabat dengan garang
Penulis
Novri Investigasi


