
PADANG, INVESTIGASI_Kok takuik di lamun ombak, jan ba rumah di tapi pantai. Kok takuik diondoh banjir, Jan barumah di tapi sungai. Pepatah itu, memang ada benar. Terbukti, bencana datang silih berganti di dua lokasi itu, pantai dan sungai
Bencana banjir dan longsor yang terjadi beberapa bulan lalu, menimbulkan dampak luar. Rumah, perkampungan, sawah dan ladang, habis di ondoh banjir badang. Tak ada yang tersisa, hanya air mata menemani duka lara.
Harapan dengan adanya proyek penanganan banjir, juga terasa sia sia. Sebab, geobag menjadi harapan warga menghapus trauma, kondisikan malah memprihatinkan. Tak kuat menahan tebing dan hantaman air, geobag goyah dan ambruk. Apalagi, jika terjadi bencana susulan, tak terbayangkan bahaya menghintai kembali
Sepanjang pekerjaan penanganan banjir dan longsor, mulai dari Batu Busuk dan berakhir di Banda Gadang, susunan batu tak lagi stabil. Geobag penahan tebing, ambruk dan goyang. Bahkan, sudah ada yang robek. Diyakini, tak akan mampu melindungi sawah, ladang, perkampungan jika bencana susulan terjadi
Geobag Ambruk, Tebing Terancam Longsor
Minggu (17/5), hari libur dimanfaatkan oleh warga untuk berolahraga dan berwisata, terasa mengusik jiwa. Saat menelusuri aliran sungai dan melihat susunan batu, pasangan geobag dan Bronjong, sudah terlihat berantakan. Terutama di Banda Gadang, tepat di lokasi persimpangan air.
Soalnya, geobag yang melindungi lahan dan rumah dari hantaman air, sudah mulai berantakan. Bahkan, jika dibiarkan terus, akan terjadi longsor. Ini yang menjadi kecemasan warga.” Kami warga masih trauma dengan banjir dan longsor. Memang sudah dibuat geobag menahan tebing, tapi sekarang sudah berantakan,” kata Feri warga setempat
Apalagi, lokasi ini persimpangan air. Sebab, sebelum air berputar, terlebih dahulu menghantam tebing ini. “Banda Gadang, termasuk paling parah dihantam banjir. Wajar saja, warga cemas dan trauma masih terasa, disebabkan geobag diharapkan penghapus trauma, kondisinya sudah tak stabil lagi,” ulasnya
Harapan warga, dilokasi ini, dibuat Bronjong agar kuat menahan tebing, jika belum bisa dibuat permanen. Karena, ini lokasi hantaman air dan paling parah saat bencana terjadi. Jika tidak, tunggu saja, tebing ini kembali runtuh. Dan, korban akan berjatuhan lagi. Baik, rumah, sawah dan ladang dan permukiman,” katanya dengan harap cemas
Penulis
Novri Investigasi


