
Entahlah, baa lah. Sampai sekarang Pemko Padang, belum juga melakukan mutasi. Padahal, Kota Bingkuang ini, sudah lama melaksanakan asesmen bagi Pejabat Tinggi Pratama dan Pejabat administrasi. Tapi, asesmen, retreat terkesan lamban, tanpa kepastian. Bahasa gaul disebut juga ‘cemen’ bermakna, lemah dan tidak berani mengambil resiko.
Bukan tudingan tanpa alasan dan bukan sekedar sorotan. Soalnya, asesmen telah berjalan sejak 22 hingga 24 April 2025. Namun, hasilnya tak ada kabar berita. Hilang, seakan tenggelam di Muara Padang. Terhempas derasnya gelombang, tergulung ombak’ nan gadang’ Apa mau dibilang, jadi tanda orang ‘sagalanggang’
Padahal, langkah yang diambil, mutasi yang dilakukan, asesmen dilaksanakan, sudah dilandasi Surat Perintah Tugas (SPT) Walikota Padang dengan nomor 800.1.14.1/17/BKPSDM-PDG/SPT/2025 yang diterbitkan pada tanggal 15 April 2025. SPT itu, hanya catatan diatas dan belum dilaksanakan dengan tuntas
Pensiun dan PLT
Menariknya lagi ditelusuri, lambatnya dilakukan mutasi dan retreat. Disadari atau tidak disadari atau lupa sama sekali. Empat pejabat senior Pemko Padang ada yang sudah dan ada yang akan melepas jabatannya dan terjadilah kekosongan. Ini pastinya mempengaruhi kinerja ditengah derasnya mensosialisasikan dan menjalankan Program Unggulan (Progul)
Tiga pejabat yang telah dan masuk masa pensiun itu, Arfian (Inspektur), Yosefriawan (Kepala Bapenda) dan Afriadi (Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga. Sementara, Edi Hasymi (Asisten 1 Setdako Padang), pindah tugas ke Universitas Andalas Juli 2025. Belum lagi beberapa pejabat diamanahkan sebagai pemain titipan atau Pelaksana Tugas
Bahkan, PLT di lingkungan Pemko Padang, jumlahnya cukup lumayan. Mulai dari Kadis sampai Kasi. Mulai dari camat sampai lurah. Ada Camat Padang Selatan, Kepala RSUD dan lainnya. Ini tentu mempengaruhi tugasnya. Kegamangan sebagai PLT tak fokus dalam bekerja, karena dibatasi kinerja. Sampai kapan, tak tahu jawabannya
Harap Harap Cemas, Tak Fokus Menjalani Tugas
Tertunda tundanya mutasi, sangat mempengaruhi kinerja. Apalagi aroma Pilkada masih tersisa, keberpihakan dan tak netral, bakal menjadi bencana. Masih ada pemain lama yang tersangkut Pilkada dan sekarang masih dipercaya. Loyalitas tentu jadi tanda tanya. Ada juga yang tersangkut permasalahan temuan BPK RI. Dan yang lebih luar biasa nya ada Kepala dinas, sekretaris hingga kabid yang hingga kini tak paham dengan tugas jabatan serta fungsi nya di posisinya saat ini, karena latar belakang keilmuan nya tak sesuai ditempatkan oleh Pimpinan Kota sebelumnya.
Kegamangan pun mendera, apakah masih bisa melanjutkan jabatan atau tersingkirkan, saat mutasi dilakukan. Daripada bekerja ditengah keraguan, alangkah baiknya secepatnya diberi kepastian. Jangan sampai mereka ‘main sipak sintuang’ sebelum dimutasi. Bermain dipenghujung jabatan, memanfaatkan kesempatan tersisa.
Seperti yang menjadi temuan , keluhan dan laporan banyak pihak. Begitu juga Tim Percepatan Pembangunan (TPP) yang dibuat oleh Walikota dan Wakil Walikota, sampai sekarang tak jelas fungsinya. Apalagi, jika dilihat banyak diantaranya berisikan tim sukses.
Diakui, Kota Padang termasuk paling lambat melaksanakan mutasi. Kabupaten Pasaman satu satunya di Sumbar Pilkada ulang, sudah melakukan mutasi. Kota Padang sudah 200 hari, belum terlihat pasti. Walikota dan Wakil Walikota, masih sibuk sosialisasi, menghadiri acara seremonial, buat konten di medsos nya hingga guntiang pita. Sampai kapan. Kita tunggu jawabannya


