
Rimbo banamo Rimbo Maek
Tasabuik juo rimbo gadang
Batanyo juo awak saketek
Baa kini masalah lelang
Tabang tinggi si buruang balam
Sairiang jo buruang bundo
Dek tasabuik kapalo daerah malam
Ikuik maatur lelang nan ko
Rami urang di Danau Singkarak
Rang dek anak nan Mudo mudo
Dapek juo carito dek Awak
Tim sukses lah sato juo
Musim proyek telah tiba. Bukan saja pesta rekanan, tapi juga pesta sunyi kepala daerah malam dan Tim sukses. Berbekal kedekatan dengan kepala daerah dan mengaku tim sukses, mereka ikut mengatur lelang. Jika ingin menang harus ada rekomendasi dari timses
Menariknya, saat Pilkada 2024, ada juga kepala daerah dalam kampanye, mengatakan, jika terpilih nanti tak akan memanfaatkan jabatan untuk bermain proyek maupun menerima fee proyek melalui Tim sukses ataupun ‘kepala daerah malam’. Sekarang, sudah terpilih, apakah, komitmen itu, akan terlaksana?
Jujur, kalau memang ini diterapkan, merupakan langkah luar biasa. Dan, menghilangkan tradisi selama ini. Karena, fee proyek dan kepala daerah, cara instan mengembalikan modal selama kampanye. Bukan angka bisa, tapi luar biasa, sebab menghabiskan puluhan miliyar demi memenangkan pertarungan
Fee Solusi Mengembalikan Modal
Fee proyek salah satu solusi kepala daerah mengembalikan modal yang habis selama kampanye. ‘Kepala daerah malam’, punya peran penting sebagai perpanjangan tangan untuk mengumpulkan fee tersebut. Bahkan, juga berperan juga jual beli jabatan.
Jika ada kepala daerah yang mengatakan, lagu lama yang bergema selama ini, baik itu lelang proyek maupun lelang jabatan, akan dihapus dan diberantas, suatu niat yang sangat luar biasa. Tentu timbul pertanyaan, adakah kepala daerah tulus membangun daerah, tanpa memikirkan puluhan miliyar habis mengejar jabatan
Kalau ini memang dilakukan, bukan janji politik demi menarik simpatik, layak rasanya kita dukung bersama. Demi menciptakan pemerintah yang bersih dan bebas KKN. Bahkan, seiring dengan komitmen pemerintahan pusat menutup ruang gerak pelaku korupsi. Namun, apakah bisa terwujud, tentu kita tunggu
Jaso Timses Jo Apo Ka Dibaleh
Soalnya, gaji dan tunjangan kepala daerah, tak akan bisa mengembalikan besarnya cost Pilkada. Apalagi, calon kepala daerah dan wakil punya timses. Mulai ring satu, sampai ring stone yang dikenal juga tukang hoyak. Biasanya, ring satu yang ‘berdarah darah’ berjuang, biasanya ada yang diharapkan, seperti jatah proyek atau bentuk lainnya.
Khusus untuk ring 1, disamping tenaga, pikiran, waktu juga mendukung dengan materi. Biasanya, ada win win solusion, jika duduk ada kompensasi yang diterima. Dan, tak terbantahkan, proyek menjadi alternatir membalikkan modal dan balas jasa.
Nah, kalau kepala daerah berkomitmen tanpa fee proyek, lalu Timses jo apo jasonyo ka dibaleh? Wajar saja, lelang menjadi pesta sunyi untuk mengembalikan modal kepala daerah dan mengganti jasa sebagai tim sukses.
Penulis
Novri Investigasi


