
8 tahun penantian panjang, 8 tahun vakum, tak ada penyelenggaraan. 2026, gemanya mulai terasa. Bangkit dari tidur panjang, berharap ada perbedaan. Namun, sayang tak sesuai harapan dan keinginan. Kemeriahan pada saat pembukaan, hanya sebatas angan. Seremonial, hanya itu dilakukan
Awalnya, Kota Solok, bersedia menyelenggarakan pembukaan. Bahkan, alek gadang, akan mengawali olahraga antar kabupaten/kota di Sumbar itu. Tarian massal 1000 orang dan hiburan artis ibukota, sudah disiapkan. Namun, semuanya pudar begitu saja. Empati terhadap nasib menimpa saudara yang masih merasakan pilunya bencana, menjadi alasan pembatan
Biasanya, dalam suatu pesta olahraga, kesuksesan acara pembukaan (opening ceremony) merupakan wajah dan penentu nada (tone setter) dari keseluruhan olahraga. Bukan sekedar formalitas, tapi panggung utama memberikan kesan pertama. Ibaratnya, pandangan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Jika pembukaan menarik, ada kesan membekas bagi atlit dan penonton
Harapan itu, tak akan pernah ditemui pada pembukaan Porprov Sumbar, pasca dikembalikan mandat pembukaan oleh Walikota Solok Ramadhani Eka Putra kepada Gubernur Sumbar melalui surat. Alasannya, Kota Solok dan Kabupaten, badunsanak, tak mungkin berpesta disaat saudara berduka
Meski demikian prosesi tetap dilakukan. Penyalaan api Porprov diarak dari Tanah Datar (Pariangan)- Padang Pariaman – keliling 11 Kecamatan Kota Padang – masuk ke Istana Gubernur. Artinya, pembukaan tetap dibuka di Aula Istana Kantor Gubernur. Tanpa antraksi, tari dan parade kontingen. Delapan tahun penantian, pembukaan hanya menggusung tema kesederhanaan.
Terkesan Dipaksakan
Kita tinggal pembukaan, kita kupas pelaksanaan yang terkesan dipaksakan. Padahal, bencana dan anggaran masih mendera kabupaten/kota, tapi tetap dilaksanakan sesuai jadwal ditentukan 2-14 Oktober 2026. Lagipula, beberapa KONI kabupaten/kota mengusulkan penundaan jadwal November 2026. Namun, tak mendapat tanggapan
Bukan tanpa alasan, tapi menjadi beban, persoalan anggaran, menjadi penyebab. Anggaran APBD menjadi suplemen keikutsertaan belum cair dibeberapa daerah. Ya, terpaksa harus mengakali, agar tetap bisa bertanding. Walau tak ada seragam, kebanggaan membela daerah. Ini berujung runtuh nya mental atlit dalam mengarungi laga yang berat
Inipun menuai sorotan anggota DPRD Sumbar, Novrizon. Ia sangat menyayangkan KONI Sumbar dan panitia, menutup mata atas usulan sejumlah KONI daerah. Padahal, daerah berharap penundaan, bisa memiliki waktu lebih untuk menyiapkan anggaran dan kontingen. Ia mengibaratkan pelaksanaan ibarat minyak habis, sambal tak lamak. Pesta belum dimulai, masalah sudah berurai. Bersambung
Penulis
Novri Investigasi


