
PAYAKUMBUH, INVESTIGASI_Tak sesuai kenyataan. Menang dicerita, kalah di fakta. Kata bijak itu, sapantun dengan pekerjaan jalan Batas Kota Payakumbuh – Sitangkai yang dikenal juga dengan sebutan Jalan Seribu Lubang.
Anggota DPR RI Andre Rosiade, juga Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar, menggadangkan gadang pekerjaan jalan ini. Viral karena sebutan jalan seribu lubang, Andre Rosiade, memperjuangkan anggaran ke pusat.
Walau baru dikerjakan sepanjang 8,4 Km, diantaranya 5,5 Km pekerjaan beton. Setidaknya, mengurangi sebutan jalan seribu lubang. Berita disampaikan keluar, bergema syahdu. Jalan seribu lubang sudah mulus dan bagus
Harapan Andre Rosiade, jalan ini bisa dimanfaatkan pengendara secepatnya, tak sesuai harapan dilapangan. Namun, semuanya itu ditutup tutupi Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar. Aksi bungkam menutupi keterlambatan pekerjaan.
Menariknya, bungkam berjemaah, seakan tak ingin keterlambatan mencuat keluar pun dilakukan. Baik itu, Kepala Balai, Kepala Satuan Kerja Wil 1 Sumbar, Pejabat Pembuat Komitmen dan rekanan, puasa bicara, ketika dikonfirmasikan progres pekerjaan
APD Tak Menjadi Perhatian
Ada yang menarik dan sangat menggelitik, saat media ini, melakukan investigasi ke lokasi, Rabu (17/6). Pekerjaan proyek bernomor kontrak 26/PKK/SK-PJN 1-Bb.03.23.1.2/XII/2025, nilai kontrak Rp42.768.588.000,00 itu, jalan longsor dibibir jurang dan pernah diberitakan media ini, sekarang masih dalam tahap pekerjaan.
Lalu apa yang menarik? Ya, lihat saja pekerjaan penanganan longsor di bibir jurang itu. PT. Putra Hari Mandiri, kurang peduli keselamatan pekerja. Terlihat, tak satupun pekerjaan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Padahal, bekerja di lokasi yang rentan kecelakaan
Menggelitiknya, proyek dengan konsultan supervisi PT. Garis Putih Sejajar KSO, PT. Adhimascipra Dwipinatana dan PT. Parades Karya Konsultan, membuktikan mega proyek bersumber dana APBN itu, malah APD kurang menjadi perhatian BPJN Sumbar. Ya, bisa jadi viral dulu jatuh korban, baru ditindaklanjuti.
Progres Dipertanyakan
Masih telusuran ke lokasi pekerjaan dihari yang sama, progres pekerjaan ditenggarai tak sesuai harapan. Bahkan, diprediksi bakal terlambat pekerjaan. Bukan tanpa alasan, proyek masa pelaksanaan 210 kalender itu, tinggal hitungan hari. Namun, dilihat pekerjaan, tak mungkin selesai tepat waktu dan tepat mutu.
Faktanya, jalan beton masih dilakukan buka tutup. Padahal, dikerjakan hanya sepanjang 5,5 Km, itupun tak cukup waktu 210 hari kalender. Begitu juga, pekerjaan penanganan longsor, masih saja dikerjakan. Dan, diprediksi juga tak akan selesai tepat waktu dan tepat mutu.
Aksi Bungkam Berjemaah
Tak selesainya pekerjaan tepat waktu, terabaikan APD,
membuktikan BPJN tak serius menggenjot rekanan. Begitu juga rekanan lalai melaksanakan pekerjaan. Menariknya, saat dikonfirmasikan bungkam berjemaah pun dilakukan. Semuanya, diam seribu bahasa, seakan sepakat menutupi pekerjaan.
Masih dihari yang sama, saat dikonfirmasikan kepada Kepala Balai, Kepala Satuan Kerja (KA Satker) Wilayah I Sumbar, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan rekanan PT. Putra Hari Mandiri, enggan menanggapi. Padahal, sudah diberi kesempatan satu hari untuk membalas jawaban, tak kunjung dilakukan. Hingga, berita ini diturunkan, bungkam berjemaah masih dilakukan. Bersambung
Penulis : Dion
Editor : Novri Investigasi


