
Taisak tangih di malam sunyi
Jatuan balinang aia mato
Sansaro juo manimpo diri
Tampek bagantuang nan lah tiado
Baitu bana nasib anak tambang
Arok juo mancubo sanang
Indak kayo nan di Arok
Malang juo nan basobok
Indak taniaik marusak bumi
Hanya untuk mancari rasaki
Jikok tambang nan ditutuik
Jo apo panyambuang hiduik
Dek tuan nan bakuaso
Babuek sakahandak hati sajo
Tambang gadang Indak tatagah
Nan ketek raso tajajah
Tertegun hati, hanyut dalam perasaan, ketika membaca sebuah tulisan di sebuah WA group. Judulnya, sangat menyentuh Jeritan Anak Tambang. Sebuah ungkapan perasaan anak tambang yang bergelut penderitaan. Bukan mencari kekayaan, tapi demi sesuap nasi dan penyambung hidup
Diawali, lagi hangat-hangatnya. Banyak media menyorot tentang tambang emas di Kabupaten Sijunjung. Ada yang pro, tapi tidak sedikit pula yang kontra. Ada yang mengatakan, kalau tambang emas ini merusak alam. Namun, ada juga yang sibuk mencari siapa dalang dan cukongnya
Bahkan, ada yang fokus menyorot masalah izin atau legalitasnya. Anehnya,
Sampai saat ini, pemerintah belum mampu menghadirkan solusi atau jawaban atas dinamika yang sedang terjadi.
Terkesan hanya memberikan janji. Kalaupun mereka sedang merencanakan WPR & IPR, itupun masih menjadi jawaban dari persoalan yang meresahkan.
Sebab, itu hanya solusi jangka menengah dan panjang. Sedangkan masyarakat butuh solusi jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Begitu juga
rencana WPR & IPR, jika terealisasi. Prosesnya tidaklah mudah dan tidak murah. Pemerintah harus mengubah tata ruang daerah. Masyarakat juga harus menyiapkan dana yang tidak sedikit.
Padahal untuk melakukan aktivitas tambang saja, mereka ada yang berkongsi dan bahkan ada yang hanya menggunakan peralatan robin.
Disisi lain,
ada juga yang meminta beralih ke sektor lain. Padahal itu tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Sebab, mereka sudah bertahun tahun hidup bergantung di sektor pertambangan.
Setiap ada pembahasan atau dialog terkait tambang, pihak yang pro atau pelaku pertambangan, tidak pernah diajak bermusyawarah menyelesaikan masalah. Mereka hanya pasrah tak bisa berbuat. Jeritan anak tambang yang hilang dikesunyian malam. Ini kutipan tulisan yang membawa hanyut perasaan.


