
Mambumbuang asok di ateh bukik
Bararak awan di hari sanjo
Sabana bedo ba kawan sampilik
Kama pai arok perai sajo
Baganti balam jo buruang pipik
Malayok tabang si buruang bundo
Dek kawan saku bajaik
Nan dibao hanyo lato lato
Alah hilang si urek malu
Habih bana raso jo pareso
Sabalik pinggang urang lah tahu
Pancikik indak barubah juo
Kok ado samo dimakan
Indak ado samo ditahan
Baitu adaik bakawan kawan
Pituah hiduik dalam pagaulan
Banyak istilah minang menggambarkan orang yang kikir, pelit dan tak mau berbagi. Panceke, cikik, pilik, sampilik, saku bajaik, jaguang, tajam sabalah. Istilah itu, sering didengar dan ditujukan untuk orang dalam kehidupan sehari hari, hanya berharap dari orang. Tapi, enggan untuk berbagi
Memang tak ada salahnya berteman dengan teman sampilik dan saku bajaik. Itu mungkin sudah karakter diri. Tapi, kadang menjengkelkan juga. Sebab, saat duduk di warung, tak pernah membayar dan berharap teman yang membayarkan. Kalau sedang ada uang disaku, kalau tidak bisa menanggung malu.
Meski, sering jadi bahan gunjingan dalam pergaulan. Bahkan, sebutan saku bajaik, sudah melekat pada dirinya. Jangankan untuk mentraktir teman, pada diri sendiri, ia juga pelit. Tega mancakik salero, daripada mengeluarkan uang untuk malapehan salero. Makanya, gunjingan dan cemohon sering menerpa orang saku bajaik. Tapi, bagi dia, biasa biasa saja.
Saku bajaik, cikik, ceke itu, beda dengan hemat. Kalau hemat, pasti ada juga keinginan untuk berbagi. Seperti, memberi sedekah, wakaf, zakat dan menyantuni keluarga dan anak yatim. Bahkan, dalam kegiatan sosial, ia juga ikut menyumbang. Tapi, untuk sehari sehari, ia terkesan hemat. Membatasi belanja dan kebutuhan, lebih banyak menabung untuak masa depan
Coba bayangkan, bergaul dengan teman sampilik, saku bajaik, ada juga rasa kesal dan jengkel. Karena, hobby manumpang, tanpa mau mengeluarkan uang. Nah, coba bayangkan pemimpin memiliki sifat sampilik dan saku bajaik. Bayangkan saja, kalau diundang pada suatu acara atau mengadakan kegiatan sosial ditengah uang menyumbang dari uang pribadi baginya sangat langka.
Kalaupun ada, mungkin bukan dari kantong pribadi. Tapi, ada anggaran yang dibagi bagi. Itupun uang rakyat yang kembali ke rakyat. Dan, istilah pemimpin saku bajaik ini, juga banyak muncul kepermukaan dan menjadi gunjingan banyak orang. Semoga kita bukan bagian dari itu. Karena berbagi itu indah. Mentraktir adaik dalam bakawan kawan, pituah dalam pergaulan
Penulis
Novri Investigasi


