
PADANG, INVESTIGASI_Dua perusaahaan plat merah PT. Nindya Karya dan PT. Hutama dipercayakan mengerjakan Paket Penanganan SPAM Pasca Bencana yang tersebar di Kabupaten/Kota di Sumatera Barat. Khusus untuk PT. Nindya Karya berdasarkan papan informasi, melakukan penanganan SPAM pasca bencana untuk Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Pariaman dan Kota Padang Panjang.
Penanganan SPAM pasca bencana yang di alokasikan Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya Pelaksanaan Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan Sumatera Barat, Satker Pelaksanaan Cipta Karya Provinsi Sumatera Barat PPK Air Minum, mulai terkontrak 2 Februari 2026 – Desember 2026, konsultan Pengawas PT. Rancang Semesta Nusantara
Sedangkan PT. Hutama Karya (Persero) mengerjakan di Kabupaten Agam, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Padang. Termasuk juga Rehabilitasi SPAM Jawa Gadut untuk pekerjaan pengadaan dan pemasangan pipa distribusi utama serta pemasangan jembatan pipa. Proyek bernomor kontrak PB.02.04/BpBPK 5.4.8/2026/01, manajemen konstruksi PT. Citra Jasa Engenering Consultan dibawah tanggungjawab PPK Air Minum II
Misteri Dibesaran Anggaran
Ada yang menarik pada pekerjaan penanganan SPAM pasca bencana ini. Mega proyek yang dikerjakan dua perusahaan besar plat merah itu, tak mencantumkan berapa anggaran pekerjaan proyek itu di papan pengumuman. Sehingga masyarakat tak mengetahui dan terkesan ditutupi. Apalagi, pekerjaan tersebar, bukan satu lokasi
Wajar menjadi tanda tanya, dibalik tertutupnya informasi anggaran. Apakah ini disengaja atau terlupakan. Tak mungkin proyek nasional dibiayai APBN tak jelas anggarannya. Dan, ketertutupan itu, tak sesuai dengan UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP) dan Perpres 46/2025. Apapun alasannya, publik perlu mengetahui pekerjaan proyek yang dibiayai dari pajak itu.
Akankah Terlambat dari Jadwal Ditentukan
Ini perlu dipertanyakan, dilihat dari pekerjaan yang sedang berjalan. Kita ambil saja contoh di Kabupaten Pasaman Barat, masih diselimuti permasalahan, terutama pekerjaan yang disubkonkan. Termasuk juga lahan yang belum tuntas menjadi penyebab keterlambatan. Cuaca ekstrem dan hujan juga menganggu pekerjaan.
Apalagi pekerjaan galian untuk membenamkan pipa HDPE 200 MM atau 8 Inci. Kedalaman galian lebih kurang 120 Cm itu, rentan genangan air ketika hujan saat dilakukan penggalian. Diperparah pekerjaan jembatan pipa yang mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi. Tentu, menjadi tanda tanya, apakah pekerjaan akan selesai tepat waktu dan mutu. Ataukah berakhir dengan denda keterlambatan. Tunggu saja, hasil investigasi berikutnya
Penulis
Novri Investigasi


