
Catatan : Richard, Akb
Menyambut Tahun Baru 2026 beda dengan tahun tahun sebelumnya yang penuh dengan hingar bingar.
Namun awal tahun 2026 ini masih dalam suasana prihatin, karena akhir tahun 2025 sejumlah daerah di tanah air dilanda musibah besar banjir bandang, seperti di kawasan Propinsi Sumbar, Sumut, Aceh dan beberapa daerah lainnya.
Di tiga propinsi tersebut musibahnya tergolong besar, meskipun tidak ditetapkan sebagai bencana nasional.
Seribuan nyawa melayang sekejab. Bahkan ada yang belum ketemu , dan banyak juga yang luka luka berat/ ringan.
Yang sangat menyedihkan ratusan, bahkan ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal, terpaksa mereka mengungsi di tempat penampungan sementara dan ada yang menempati sementara di rumah sanak keluarganya.
Intensitas hujan yang sangat tinggi pada Minggu akhir November 2025 lalu juga mengakibatkan hancur dan rusaknya ratusan, mungkin ribuan infrastruktur daerah, seperti jalan, jembatan, irigasi, perumahan rakyat, hilangnya harta benda, ternak, tanaman rakyat dibawa air bah dan banyak lagi yang lainnya.
Bencana besar ini mendapat perhatian serius dari Presiden RI Prabowo Subianto , kepala daerah, anggota parlemen pusat dan daerah, Forkopimda, sejumlah kementrian / lembaga yang menangani bencana, para pejabat pusat/ daerah, berbagai Ormas, lembaga sosial kemasyarakatan, pengusaha dan handai tolan yang prihatin dengan musibah besar ini.
Meskipun timbul gonjang ganjing di tengah tengah masyarakat perlu tidaknya ditetapkan sebagai bencana nasional.
Namun yang harus menjadi fokus perhatian sekarang adalah bagaimana upaya membenahi kembali infrastruktur daerah yang hancur, termasuk membangun kembali perumahan rakyat yang hilang/ hanyut, atau hancur. Serta sarana dan prasarana penting lainnya untuk membangkitkan perekonomian masyarakat yang luluh lantak. Termasuk di sektor pertanian, kehutanan, perkebunan, perdagangan dan lainnya.
Data korban bencana harus valid, akurat dan teruji, sehingga tidak ada yang tertinggal.
Tugas berat pemerintah pusat dan daerah adalah membenahi kembali semua yang hancur tersebut. Sebaiknya fokus anggaran 2026 dan tahun tahun berikutnya lebih besar untuk membenahi infrastruktur yang hancur.
Ada suara dari pemerintah yang akan membangun kembali hunian sementara/ tetap dan bantuan dana bagi korban bencana patut diacungkan jempol. Semoga.
Sesuai.penegasan presiden , kegiatan yang tidak urgen di “cancel/ dealate “saja, seperti FGD/rapat rapat yang tidak penting, perjalanan dinas dalam dan luar negeri dan kegiatan lainnya yang tidak urgen.
Disamping itu keterbukaan dan tranparansi bantuan sekecil.apapun yang diterima pemerintah daerah yang terkena korban bencana harus diekspose untuk menghindari, ,” Rumah Siap, Panokok Babunyi” / (cegah muncul image negatif/ minor ditengah tengah masyarakat).
Akhirnya , untuk menghormati dan merasakan sakitnya sejumlah masyarakat yang ditimpa musibah. Menyambut tahun 2026 cukup dengan aktifitas yang menyejukkan saja, seperti doa dan zikir, baik perorangan, kelompok atau dalam jumlah besar , di semua sarana ibadah agama, sesuai imbauan pemerintah,/ pemerintah daerah.
Juga Cancel dulu.kegiatan yang bersifat huru hara dan hingar bingar.
Semoga Indonesia/ daerah bangkit kembali pasca berencana besar. Aamiin.*


