
PARIAMAN, INVESTIGASI – Pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi Daerah Irigasi (DI) Sicaung, Kabupaten Padang Pariaman, menjadi salah satu perhatian Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Provinsi Sumatera Barat. Proyek yang didanai melalui APBD Tahun Anggaran 2026 tersebut tidak hanya berorientasi pada pemulihan fungsi infrastruktur irigasi, tetapi juga memperhatikan aspek kekuatan dan ketahanan konstruksi terhadap aktivitas masyarakat di sekitarnya.
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam pekerjaan tersebut adalah konstruksi pembatas jalan atau kanstin di sepanjang lokasi pekerjaan. Jika umumnya menggunakan konstruksi beton biasa, pada proyek kali ini terlihat adanya tambahan tulangan besi yang membentang pada bagian pembatas.
Proyek senilai Rp1.342.335.894 itu dilaksanakan oleh CV Queensha Karya, dengan konsultan pengawas PT Andalas Raya Consulindo. Pekerjaan tersebut berdasarkan Kontrak Nomor 04.11/PJPA-SDA.BK/APBD/VIII-2026, yang dimulai pada 26 Agustus 2026 dengan masa pelaksanaan 130 hari kalender.
Lantas, apa alasan penggunaan tulangan besi pada konstruksi pembatas tersebut?
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Hendri, menjelaskan bahwa penambahan tulangan besi merupakan langkah antisipatif untuk memperkuat konstruksi, terutama karena lokasi pekerjaan berada di kawasan pertokoan dan berdekatan dengan aktivitas bongkar muat barang menggunakan truk.
“Pada perencanaan awal sebenarnya tidak ada penggunaan tulangan besi tambahan. Namun, berdasarkan pengalaman sebelumnya, aktivitas truk yang melakukan bongkar muat barang di toko-toko sekitar Pasar Sicincin tidak mungkin kita larang. Karena itu, konstruksi pembatas diperkuat dengan tambahan tulangan agar tidak mudah rusak atau jebol,” jelas Hendri.
Menurutnya, pembatas tersebut dibangun sepanjang kurang lebih 227 meter dengan menggunakan tulangan besi dan pengecoran beton ready mix mutu K-225. Penambahan kekuatan konstruksi ini dinilai penting untuk mengantisipasi beban dan potensi benturan akibat aktivitas kendaraan berat di sekitar lokasi.
Hendri juga menjelaskan bahwa pelaksanaan konstruksi tetap memperhatikan batas pekerjaan pengecoran yang diperbolehkan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN).
“BPJN hanya memperbolehkan batas pengecoran sampai pada titik tersebut. Karena itu, pelaksanaan pekerjaan harus menyesuaikan dengan ketentuan dan kondisi di lapangan,” ujarnya.
Ia menegaskan, penyesuaian konstruksi dengan penambahan tulangan besi tersebut tidak mengurangi volume pekerjaan yang telah direncanakan. Seluruh penyesuaian telah diperhitungkan secara teknis, termasuk pada bagian ujung konstruksi yang dimensinya sedikit mengecil akibat kondisi lapangan.
Selain pembatas jalan, perhatian juga diberikan terhadap kondisi bangunan pelengkap jaringan irigasi. Pada beberapa bagian, gorong-gorong yang dinilai sudah bermasalah dibongkar dan dipasang kembali dengan konstruksi baru. Langkah ini dilakukan untuk memastikan fungsi saluran tetap optimal serta meningkatkan keandalan infrastruktur irigasi setelah rehabilitasi.
Hendri tidak menampik bahwa pelaksanaan pekerjaan di lapangan menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada kawasan yang bersinggungan langsung dengan aktivitas masyarakat dan kendaraan pengangkut barang. Namun, koordinasi serta pendekatan persuasif terus dilakukan agar pekerjaan dapat berjalan tanpa mengganggu aktivitas masyarakat secara berlebihan.
Di sisi lain, kondisi cuaca ekstrem dan tingginya curah hujan juga menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan pekerjaan. Meski demikian, pihaknya terus mengupayakan langkah-langkah teknis dan pengendalian pekerjaan agar target penyelesaian dapat tercapai sesuai jadwal dengan tetap memperhatikan kualitas konstruksi.
“Kita tentu berharap seluruh pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu dan sesuai mutu yang telah dipersyaratkan. Berbagai kendala di lapangan terus kita antisipasi dan koordinasikan agar hasil pekerjaan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutup Hendri.
Penulis: Novri Investigasi


