Catatan : Emil Pribadi, S IP :

Masyarakat Indonesia jangan sampai di sebut orang Hedon atau hedonisme , yaitu pandangan hidup yang menjadikan kesenangan, kenikmatan, dan kepuasan materi sebagai tujuan utama kehidupan.
Faktor penyebab berkembangnya Hedonisme media sosial paparan konten kehidupan mewah memicu rasa iri dan ingin meniru (FOMO).
Kini Globalisasi /masuknya budaya barat yang bebas dan materialistis sangat cepat.
Pergeseran nilai keberhasilan seseorang kini sering diukur hanya dari aspek materi. Tekanan lingkungan adanya tuntutan pergaulan agar diakui oleh komunitas tertentu.
Dampak negatif bagi masyarakat, terutama masalah keuangan memicu perilaku utang konsumtif dan ketergantungan pada pinjaman online. Dan Kesenjangan sosial memperlebar jarak psikologis antara si kaya dan si miskin.
Gangguan mental menimbulkan stres, cemas, dan depresi jika ekspetasi gaya hidup tidak tercapai.
Kriminalitas mendorong seseorang menghalalkan segala cara, seperti korupsi, demi dapat uang cepat.
Asal kata dan arti hedone dari bahasa Yunani, yang artinya kenikmatan atau kesenangan.
Menurut Filsafat kuno yang diperkenalkan oleh Aristipos dari Kirene yang menganggap bahwa kesenangan fisik adalah hal yang terbaik bagi manusia.
Kalau Bahasa gaul modern sering dipakai untuk menyebut gaya hidup boros, suka hura-hura, atau memakai barang-barang mewah.
Ciri-ciri perilaku Hedon dapat dilihat dari perilaku suka belanja dan sering membeli barang mahal hanya demi kesenangan sesaat. Terkesan Egois dan lebih mementingkan kepuasan diri sendiri daripada orang lain.
Perilaku tersebut adalah Boros yang menghabiskan banyak uang tanpa memikirkan tabungan masa depan.
Contoh perilaku belanja berlebihan seperti membeli baju, sepatu, atau barang mewah terbaru , hanya demi status dan rasa senang.
Suka foya-foya , sering nongkrong di tempat elite dan mentraktir teman dengan uang tabungan atau bahkan berutang.
Juga suka Gaya hidup instan yang menghindari pekerjaan dan memilih jalan pintas demi kepuasan yang instan.
Disamping itu untuk diketahui bahwa hedonisme adalah gaya hidup atau hanya merupakan pola pikir personal, bukan budaya resmi suatu daerah atau suku di Indonesia.
Fenomena hedonisme ini sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari . Pertama, Kawasan metropolitan dan Kota Besar masyarakat di kota-kota besar lebih rentan terpapar gaya hidup ini karena perputaran uang yang cepat, pusat hiburan yang menjamur, dan tekanan sosial (gengsi). Jakarta (terutama Jakarta Selatan dan Pusat) menjamurnya kafe mewah, klub malam, mal premium, dan tren pamer barang bermerek (flexing).
Surabaya dan Bandung munculnya komunitas urban yang berorientasi pada hiburan malam, kuliner mahal, dan kepemilikan barang mewah demi status sosial.
Dua, . Daerah destinasi wisata internasional wilayah yang menjadi pusat pariwisata dunia sering kali mengalami pergeseran budaya lokal akibat pengaruh gaya hidup wisatawan asing yang mencari kesenangan liburan.
Bali (khususnya kawasan Seminyak, Canggu, dan Kuta) wilayah ini dipenuhi oleh fasilitas hiburan 24 jam, beach club mewah, dan pesta-pesta yang berfokus pada kesenangan duniawi dan pelepasan penat.
Ketiga. Daerah penghasil komoditas tinggi (Kawasan Industri/Pertambangan) lonjakan ekonomi yang instan atau pendapatan yang sangat tinggi di suatu daerah sering kali memicu perilaku konsumtif yang ekstrem untuk mencari kepuasan materi.
Kota-kota tambang di Kalimantan dan Papua ketika harga komoditas (seperti batubara atau sawit) melonjak, sering terjadi fenomena masyarakat lokal atau pekerja tambang yang membelanjakan uang secara masif untuk kendaraan mewah, hiburan, dan barang elektronik mahal dalam waktu singkat.
Dengan melihat fenomena tersebut, hedonisme ini dapat ditemukan di kawasan urban (perkotaan) dan pusat hiburan di mana fasilitas untuk memuaskan keinginan materi dan kesenangan fisik.
Pola hidup hedonisme ini jangan ditiru, hanya akan memusingkan kepala, terutama bagi kalangan menengah ke bawah. Mari kembangkan pola hidup sederhana, dan lebih banyak menabung untuk masa depan yang lebih cerah.


