
Investigasi -Sijunjung-Tahun Anggaran 2026 tidak hanya membawa perubahan angka dalam pagu belanja, tetapi juga perubahan cara pandang dalam menjaga kualitas laporan keuangan negara. Melalui kebijakan terbaru Direktorat Jenderal Perbendaharaan, rekonsiliasi eksternal kini dimulai sejak awal tahun dan menggunakan aplikasi baru: MyIntress, menggantikan MonSAKTI.
Sekilas, ini terlihat seperti pergantian sistem biasa. Namun jika dicermati lebih dalam, transformasi ini sesungguhnya mencerminkan perubahan pendekatan—dari pola korektif menjadi preventif.
Selama ini, rekonsiliasi sering dipersepsikan sebagai tahapan administratif yang berpuncak di akhir periode pelaporan. Perbedaan data diperiksa, selisih disesuaikan, dan laporan disempurnakan menjelang tenggat waktu. Pola tersebut kerap menimbulkan tekanan administratif yang tidak kecil.
Kini, pendekatan itu diubah. Rekonsiliasi dimulai sejak Januari. Artinya, kualitas data tidak lagi diperiksa di akhir, tetapi dijaga sejak awal. Batas waktu penyelesaian periode Januari yang ditetapkan hingga 27 Februari 2026 menjadi penanda bahwa disiplin administrasi harus dibangun dari bulan pertama tahun anggaran berjalan.
Kepala Seksi Verifikasi Akuntansi dan Kepatuhan Internal KPPN Sijunjung, Jon Hendri, menilai perubahan ini sebagai langkah yang sangat strategis.
“Transformasi ini mengubah cara kita bekerja. Rekonsiliasi bukan lagi sekadar kewajiban di akhir periode, tetapi menjadi kontrol kualitas sejak awal. Ini akan membuat laporan keuangan lebih stabil dan minim koreksi di belakang,” ujarnya.
Menurutnya, fokus pada penyelesaian TDK CoA dan TDK Rupiah bukan sekadar persoalan teknis sistem, melainkan bentuk kedisiplinan dalam pengelolaan anggaran.
“Ketika data sudah bersih sejak awal, maka proses pelaporan menjadi lebih ringan. Ini bukan soal aplikasi semata, tetapi soal budaya kerja yang lebih tertib dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Peralihan dari MonSAKTI ke MyIntress juga membawa pesan penting tentang modernisasi tata kelola. Sistem baru ini dirancang lebih terintegrasi dan mendukung monitoring kualitas data secara lebih komprehensif. Dengan integrasi yang lebih kuat, potensi perbedaan data dapat segera terdeteksi dan diselesaikan tanpa menunggu akumulasi permasalahan.
Di tengah tuntutan transparansi dan akuntabilitas publik yang semakin tinggi, langkah ini menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam menjaga kepercayaan terhadap pengelolaan keuangan negara. Laporan keuangan bukan sekadar dokumen formal, tetapi representasi integritas institusi.
Transformasi Rekonsiliasi 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang meninggalkan MonSAKTI dan beralih ke MyIntress. Ia adalah tentang membangun disiplin sejak awal, memperkuat pengendalian internal, dan memastikan setiap rupiah yang dikelola tercatat secara tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di sinilah makna perubahan itu sebenarnya: bukan sekadar sistem yang baru, tetapi tata kelola yang semakin matang. (JH)


