
PADANG, INVESTIGASI_Tak kunjung lelah, pantang menyerah, siap berperang membersihkan sampah. Prinsip tertanam di hati ‘Pasukan Oranye’ Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dibawah komandan Fadelan.
Pasca banjir dan longsor yang melanda Ranah Minang, termasuk Kota Padang, bebanpun semakin bertambah. Biasa, sebelum subuh, sampah dibersihkan sepanjang jalan, pasca banjir dan longsor, makin bertambah beban
ekstrem dan
Tak tanggung, walau kadang, membuat perasaan dan hati bingung. Karena, harus membersihkan sampah menggunung. Bayangkan, sampah pasca bencana mencapai 3.327 ton, jumlah yang sangat luar biasa
Tumpukan tersebut bukan hanya berasal dari backlog layanan, tetapi juga dari material rumah tangga terdampak, ditambah kayu-kayu gelondongan berukuran besar yang terbawa arus dari hulu sungai.
Di tengah suasana kota yang masih memulihkan napas, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang langsung mengerahkan sumber daya untuk menormalkan kondisi. Mereka menetapkan target ambisius, seluruh penanganan tuntas dalam 9 hari. Semangat yang tak pernah redup dari Dinas Lingkungan Hidup
Trik Cerdas Perangi Tumpukan Sampah Pasca Banjir
Menghadapi super persoalan ini, pemilahan dilakukan dilokasi. Ini cara cepat
tekanan ke TPA. Strateginya,
sejak hari pertama pemulihan, petugas Lapangan Pengawas Sampah (LPS), dibantu jaringan Bank Sampah, melakukan pemilahan langsung di titik-titik terdampak.
Pendekatan ini memungkinkan sebagian besar material bencana diproses lebih cepat melalui prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Dengan metode ini, tidak semua tumpukan harus berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Air Dingin. Sehingga armada pengangkut bisa difokuskan pada material yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan kembali. Cara Cerdas, Pasukan Oranye, membersihkan sampah pasca banjir
“Kami tidak ingin membuat TPA kewalahan. Banyak material yang masih punya nilai guna, dan itu langsung ditangani di lapangan,” ujar Kepala DLH Kota Padang, Fadelan Fitra Masta, seraya mengatakan, kayu gelondongan 1.100 Ton, masalah Besar, harus dihadapi solusi k
lebih besar
Diakui, beban terbesar dari 3.327 ton sampah itu adalah kayuan gelondongan, diperkirakan mencapai 1.100 ton. Potongan pohon sepanjang beberapa meter terlihat memenuhi tepian sungai dan kawasan pesisir semacam. ‘Bak karun liar’ yang terbawa banjir bandang.
Namun DLH menilai situasinya tidak seburuk angkanya. Hanya sebagian kecil kayu yang perlu diangkut. Warga pesisir memungut kayu-kayu tersebut untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kecil, sementara sisanya akan disalurkan ke PT Semen Padang sebagai bahan bakar alternatif.
“Kami dorong agar kayu ini bermanfaat. Semakin banyak yang dimanfaatkan warga dan sektor industri, semakin cepat kota pulih,” kata Fadelan, seraya menyebutkan, langkah ini bukan hanya mengurangi beban logistik, juga membuka jalur pemanfaatan material pasca bencana yang lebih berkelanjutan.
Mobilisasi Armada & Sistem Zona:
DLH mengakui, ini beban pekerjaan cukup berat. Namun mereka mengandalkan dua strategi. Pertama, memobilisasi armada secara maksimal, termasuk penambahan ritasi harian.
Pembagian zona kerja, memastikan tiap kawasan terdampak mendapat penanganan sistematis dan tidak saling tumpang tindih.
Setiap zona dipimpin koordinator lapangan dengan tugas memantau kecepatan pengangkutan, efektivitas pemilahan, hingga pembersihan lanjutan. Dengan pola seperti itu, DLH optimistis tenggat 9 hari dapat dicapai meski skala material sangat besar.
Strategi Jitu Tak Mengorbankan Prinsip Berkelanjutan
Percepatan penanganan tidak boleh mengorbankan prinsip keberlanjutan. Ini, strategi jitu Upaya memanfaatkan material sisa bencana mulai dari kayu hingga sampah rumah tangga yang masih bernilai menjadi bagian dari strategi pemulihan jangka panjang.
“Pemulihan harus cepat, tapi tata kelola lingkungan harus tetap di depan. Kota Padang pulih, tapi tidak dengan cara meninggalkan jejak baru di TPA,” tegas Fadelan.
Seperti terlihat, armada hilir mudik, warga ikut terlibat, dan petugas berjibaku memulihkan Padang agar kembali berdenyut stabil tanpa gunungan sampah yang membebani.
Mon/Novri


