
Kadang berpikir juga, kok bisa Semen Padang FC, bernasib naas seperti ini. Musim ke musim, setia bertengger di zona degradasi. Walau dipenghujung kompetisi bangkit dan bertahan di kompetisi tertinggi sepakbola di negeri. Itu terjadi pada musim kompetisi Liga BRI 2024 – 2025.
Bukan sembuh, penyakit itu kembali kambuh musim kompetisi Super League BRI 2025 – 2026. Mulai ditabuh, sampai penghujung kompetisi, tak beranjak dari zona degradasi. Entah musim ini, apakah keajaiban akan datang lagi. Bisa bangkit dan terhindari dari zona degradasi.
Itu pertanyaan yang tak terjawab sampai kini. Sebab roda kompetisi masih bergulir, walau sudah bisa ditebak hasil akhir. Terbuka peluang tergelincir. Bukan merendahkan, jarak 7 poin dari batas degradasi atau posisi 15 klasemen sementara Persis Solo, sulit dikejar. Apalagi, kompetisi tinggal 4 laga lagi
Apalagi, lawan dihadapi cukup berat. Menghadapi Dewa United, Persik Kediri, Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta. Sulit meraih angka penuh, jika ingin bertahan. Kalaupun menang, nasib juga ditentukan tim lain, terutama Persis Solo. Sepertinya, nasib Kabau Sirah tak seperti musim 2024-2025
Pergantian Manajemen Diungkit
Kalau dihitung hitung, Semen Padang FC, termasuk royal dalam pembelian pemain mengharungi kompetisi sepakbola tertinggi di negeri ini. Buktinya, sering dilakukan cuci gudang. Begitu juga pelatih, sejak naik ke Liga 1, sudah empat pelatih menangani tim kebanggaan Urang Awak ini.
Hendri Susilo dipercaya menahkodai Semen Padang FC, setelah naik ke kasta tertinggi dari Liga 2. Perburuan pemain dilakukan, cuci gudang pertama dilakukan Kabau Sirah. Tapi apa daya, diharapkan Semen Padang FC bisa bersaing di liga tertinggi itu, malah jadi bulan bulan.
Sampai putaran pertama, tak kunjung bangkit dari zona degradasi. Akhirnya, Hendri Susilo didepak dan digantikan Eduardo Almeida. Meski terseok Seok, akhirnya Semen Padang, lepas dari jeratan degradasi. Biar tak menjadi makanan empuk lawan, cuci gudang pun dilakukan, pemain asal Portugal meramaikan skuad Kabau Sirah.
Bukan bangkit, Semen Padang FC terseok seok. Seperti biasa, zona degradasi terasa nyaman sampai penghujung putaran pertama. Eduardo pun jadi korban diberhentikan tengah jalan. Kursi kepelatihan dipercayakan kepada Dejan Antonic.
Memasuki putaran kedua, kembali dilakukan cuci gudang. Perburuan pemain pun dilakukan. Namun, tak seindah dibayangkan. Di zona degradasi terus bertahan. Dipenghujung kompetisi, Dejan Antonic pun diberhentikan dan digantikan Imran Namahumarury
Mantan pelatih Malut United itu, juga bernasib kurang baik. Hanya sekali menang dari tiga laga dilakoni. Harapan untuk menyelamatkan Semen Padang FC bertahan di Super League menjadi beban berat. Ya, cuci gudang pemain sering, gonti ganti pelatih sudah, sekarang mencuat pergantian manajemen. Walau bukan waktu yang tepat, karena kompetisi tersisa 4 laga lagi. Bersambung
Penulis
Novri Investigasi


