
Autobiografi Prof.Edi Syafri
Inilah kisah yang menyayat namun memancarkan cahaya, sebuah kesaksian hidup bahwa doa ibu bukan sekadar kata yang melayang, bukan sekadar harapan yang tergantung di angkasa—ia adalah kekuatan yang berjalan, adalah kenyataan yang menggenggam takdir.
Ibu Sumarni, seorang ibu yang memikul dunia sendirian, menyusuri jalan yang berliku dengan tangan yang kasar namun hati yang selembut sutra. Ia merangkul segala pekerjaan halal yang datang, tak malu, tak lelah, hanya agar pintu ilmu tetap terbuka lebar bagi anaknya.
Sang anak pun tumbuh memahami getir perjuangan itu; ia menjadikan buku sebagai senjata, ketekunan sebagai balasan setulus hati, dan menopang perjuangan ibunya dengan setiap tetes keringat dan setiap lembar ilmu yang ia pelajari.
Ombak Air Bangis pernah mengamuk hendak merenggut nyawa, tabrakan tengah malam tidak bisa dilupakan, covid 2021 sangat menggetarkan badan, kebingungan di bandara Istanbul sempat menggelapkan pandangan, setiap tikungan jalan hidup menyisakan ujian yang menusuk.
Namun di balik setiap badai, di balik setiap kesempitan, selalu ada benang emas yang tak pernah putus: doa ibu yang terbang dalam keheningan, sujud panjang di sepertiga malam, rintih yang tak pernah didengar orang lain, tanpa pamrih, tanpa menuntut balas sedikit pun.
Hingga puncaknya tiba: sang anak berdiri gagah sebagai Guru Besar pertama di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Di barisan paling depan, Ibu Sumarni duduk memandang, matanya berkaca-kaca menahan bahagia yang meluap—doa yang ia jahit bertahun-tahun kini terwujud nyata di hadapan matanya.
Dan doa itu pun pulang kembali kepada pemiliknya. Di hari terakhir bulan suci Ramadhan 2024, saat puasa masih menyucikan raga, usai sujud tahajud yang paling khusyuk, tepat saat langkah kakinya melangkah menuju shalat Subuh berjamaah—Allah memanggil pulang hamba-Nya yang mulia itu.
Persis seperti yang selalu ia minta: wafat dalam keadaan beribadah, dalam keadaan suci, dalam keadaan dicintai Sang Pencipta.
Sebuah senter tergeletak di tanah, cahayanya menunjuk lurus ke angkasa. Ia seakan berbisik: “Hidup hanyalah perjalanan, dan rumah sejati ada di sana, tempat doa-doa kita berkumpul dan berdamai.”
Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan seorang anak yang meraih tinggi ilmu. Ia adalah bukti abadi, bahwa doa ibu adalah kekuatan yang tak tertandingi, ia adalah kenyataan yang berjalan mendahului langkah kita, menuntun, menjaga, dan menyempurnakan takdir hingga akhir hayat. 🤍✨
Resensi Buku by:
Tb Mhd Arief Hendrawan


