
BENGKULU, INVESTIGASI — Akses transportasi utama masyarakat Desa Pagardin, Kecamatan Ulok Kupai, Kabupaten Bengkulu Utara, lumpuh total setelah jembatan gantung di wilayah tersebut terendam banjir akibat meluapnya Sungai Pagardin pada Kamis sore (5/11/2026).
Selain memutus aktivitas warga, kondisi ini memperparah kerusakan infrastruktur yang sebelumnya telah mengalami pelapukan dan posisi miring, sehingga mengancam keselamatan pengguna jalan.
Kepala Desa Pagardin, Eko Pastrio, membenarkan bahwa akses penghubung vital tersebut tidak dapat difungsikan sama sekali akibat luapan air sungai yang menenggelamkan seluruh bagian lantai jembatan.
”Kondisi jembatan memang sudah sangat memprihatinkan jauh sebelum banjir terjadi. Kerusakan konstruksi dan posisi jembatan yang miring membuat pihak desa serta masyarakat sangat khawatir terhadap keselamatan warga,” ujar Eko,
Hujan Deras Picu Luapan Sungai
Peristiwa bermula ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Kecamatan Ulok Kupai sejak Kamis siang. Kondisi ini memicu peningkatan debit air Sungai Pagardin secara drastis dalam waktu singkat.
Akibatnya, arus deras menenggelamkan seluruh bentang lantai jembatan gantung. Kendaraan roda dua maupun pejalan kaki sama sekali tidak dapat melintas, membuat mobilitas warga terhenti total.
Aksi Swadaya Bersihkan Material Kayu
Di tengah situasi darurat tersebut, kekecewaan dan kecemasan warga turut mencuat ke ruang publik, salah satunya melalui siaran langsung (live) di platform TikTok oleh salah seorang warga setempat. Rekaman video berdurasi singkat itu dengan cepat beredar di media sosial dan memperlihatkan detik-detik derasnya aliran sungai menerjang badan jembatan yang tenggelam.
Melihat ancaman kerusakan yang semakin parah, sejumlah warga terpaksa turun tangan melakukan aksi penyelamatan secara swadaya. Mereka bergotong royong membersihkan batang-batang kayu berukuran besar serta tumpukan sampah yang tersangkut pada tali seling dan tiang penyangga jembatan.
Langkah darurat ini dilakukan untuk mengurangi tekanan beban material terhadap konstruksi jembatan. Warga khawatir, jika tumpukan sampah dan kayu terus dibiarkan menahan arus, jembatan berisiko tinggi ambruk.
Desakan Realisasi Pembangunan 2026
Lumpuhnya infrastruktur ini kembali mengingatkan warga pada janji pemerintah terkait rencana pembangunan jembatan baru yang dijadwalkan direalisasikan pada tahun 2026 ini.
Masyarakat Desa Pagardin berharap pemerintah daerah tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat tidak menutup mata atas kondisi darurat tersebut. Warga mendesak agar penanganan dan percepatan pembangunan jembatan permanen dapat segera direalisasikan demi menjamin keselamatan serta kelancaran roda perekonomian di wilayah pedesaan.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih terus memantau perkembangan debit air Sungai Pagardin secara berkala sambil bersiaga mengantisipasi potensi susulan bencana.
Penulis: M. Martanus
Sumber: Observasi Lapangan & Dokumentasi Warga


