
BENGKULU UTARA, INVESTIGASI — Dua jembatan vital penghubung antardesa dan antarkecamatan di Kabupaten Bengkulu Utara kini dalam kondisi amat memprihatinkan. Keduanya membutuhkan penanganan dan perbaikan mendesak dari pihak berwenang guna mengantisipasi potensi bahaya bagi masyarakat yang melintas.
Jembatan pertama adalah Jembatan Merah Putih, yang berlokasi di Dusun Lembah Duri, Desa Air Sebayur, Kecamatan Pinang Raya, Kabupaten Bengkulu Utara. Akses ini menjadi jalur penghubung penting antara Dusun Lembah Duri dan Desa Simpang Batu, sekaligus memfasilitasi mobilitas masyarakat menuju Kecamatan Giri Mulya.
Jembatan yang diperkirakan dibangun pada era 1980–1990-an dan sempat dirintis ulang dalam program kepolisian setempat tersebut kini dinilai sudah tidak layak pakai. Selain papan alas jembatan yang banyak lapuk dan rusak, struktur pondasinya tercatat mengalami penurunan (ambles). Guna menjaga aksesibilitas, perbaikan sementara sejauh ini hanya mengandalkan swadaya masyarakat setempat serta bantuan penyediaan papan pergantian secara bergantian dari perusahaan-perusahaan swasta di sekitar lokasi.
Sementara itu, kondisi lebih mengkhawatirkan terlihat pada Jembatan Serangai, yang menghubungkan Desa Sebayur dan Desa Rena Jaya di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara. Struktur jembatan ini berada dalam status darurat tinggi akibat banyaknya material besi utama yang patah dan bengkok.
Warga menilai Jembatan Serangai sangat berbahaya untuk dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, karena berpotensi runtuh sewaktu-waktu jika terus dipaksakan tanpa ada tindakan perbaikan permanen dari pemerintah daerah terkait.
Masyarakat berharap pihak dinas teknis dan pemerintah daerah segera turun ke lapangan untuk melakukan evaluasi kelayakan serta penganggaran perbaikan demi menjamin keselamatan warga dan kelancaran mobilitas ekonomi antardesa.
Penulis: M. Martanus


