
Langit tak berhenti beruraikan air mata. Menangis pilu, tak kunjung reda. Bukan sehari, berhari hari membawa duka. Membasahi bumi, tiada henti. Bencana menimpa silih berganti. Entah, apa salah dan dosa, semua datang tiba tiba. Menghancurkan segalanya. Bahkan, kehilangan nyawa, rumah dan harta benda
Ranah minang berduka. Banjir, longsor, galodo datang melanda. Sawah ladang porak poranda. Rumah tenggelam seketika. Semuanya hilang sekejap mata. Mencari tempat berteduh dari derasnya hujan. Berharap bantuan, menunggu dibawah tenda, kedatangan orang yang pernah diberi suara
Rindu Suasana Saat Meminta Suara
Kadang rindu masa dulu. Masa kampanye pemilihan legislatif. Setiap hari ada saja yang datang. Membawa buah tangan tanpa diundang. Senyum manis mengiringi sapaan kepada warga. Janji manis, membawa kabar gembira. Jika terpilih nanti. akan memperhatikan kesejahteraan warga
.
Setelah mendapatkan suara, kau merasakan nikmatnya hidup di singasana. Menjadi orang terhormat dimata warga. Menjadi wakil rakyat dengan berbagai fasilitas tersedia. Perubahan yang drastis berawal dari suara warga. Kesibukan menjadi alasan, jarang bertemu muka
Reses pun hanya pertemuan seketika, menyerap aspirasi warga. Setelah itu, sulit bertemu, apalagi bertegur sapa. Tak kenal lagi warung, tempat menyampaikan keinginan. Jarang datang ke Mesjid dan Mushalla, mendekatkan diri dengan jemaah mencari simpatik. Kenangan tak terlupakan, walau sekarang terpisah karena jabatan
Suara Derita Tak Bermakna
Duka mendalam dirasakan warga. Apalagi, warga korban evakuasi, rumah tak bisa dihuni. Hanya bisa berharap bantuan, penyambung hidup yang terkepung akibat bencana. Asa yang tersisa dari orang yang ditolong memberikan suara, bisa menolong mereka. Bukankah dulu datang meminta suara. Seharusnya, sekarang mereka mendengar jeritan hati warga
Memang masih ada yang peduli dan mau berbagi. Membawa nasi bungkus, memberikan bantuan. Tapi, masih ada juga berdiam diri, tanpa ada tindakan. Padahal, warga yang menolongnya duduk di gedung dewan berbalut penderitaan.
Dulu kau datang, berharap dan memohon diberikan suara. Saat suara rakyat itu menjerit, akibat bencana dimanakah mereka. Kau bukan dirimu lagi. Dulu kau datang berharap suara. Kini suara rintihan warga korban bencana, seakan tak bermakna
Penulis Novri Investigasi


